SEMUANYA HARUS TERUS BELAJAR 
(Sebuah komentar atas pertandingan semifinal Liga Champions Eropa musim 2011/2012 antara Barcelona dengan Chelsea)

Dalam beberapa tahun terakhir, Barcelona FC menjelma menjadi klub yang paling disegani di seantero bumi ini. Hal ini dapat diukur dari trofi yang telah diraihnya. Tidak tanggung-tanggung, dalam reantang 3 tahun terakhir, 13 trofi di berbagai kompetisi telah diraihnya. Kesuksesan ini sangat didukung oleh kualitas pemain-pemainnya yang begitu tokcer; pelatih yang penuh kharisma; dan dukungan fans yang sangat besar.

Akan tetapi, seluruh kesuksesan yang telah direngkuh tersebut tidak mampu menolong Barcelona dari kenyataan pahit bahwa mereka harus kandas di partai semifinal setelah dipaksa kalah agregat 2-3 dari Chelsea. Pada partai yang dihelat di Nou Camp (24 April 2012), Barcelona dituntut harus memenangkan pertandingan dengan selisih minimal 2-0. Saat pertandingan memasuki menit ke-43, harapan itu seakan mendapatkan jalan untuk terealisasi setelah Busquet dan Iniesta berhasil menyarangkan bola ke jala kiper Chelsea yang dikawal Petr Cech. Akan tetapi, dalam selang waktu 4 menit kemudian, harapan itu perlahan pupus setelah pada injury time babak pertama, Ramires berhasil menggetarkan gawang Barcelona dengan gol indahnya. Fans Barcelona semakin terbenam dalam kekecewaan setelah pada menit 92, Fernando Torres juga dapat mencetak gol yang menjadikan skor menjadi sama kuat, 2 - 2. Dengan hasil ini, Barcelona secara resmi harus mengakui keunggulan Chelsea dengan agregat 2 - 3.

Melihat pertandingan semalam, sebagian komentator menyatakan kebosanannya karena pergerakan bola yang sangat monoton. Bola sangat mutlak dikuasai oleh Barcelona, sedangkan Chelsea hanya menerapkan strategi defensif sambil sesekali melakukan serangan balik. Hal ini dibuktikan dengan ball possesion Barcelona yang mencapai 76% dan Chelsea hanya 24%. Namun, angka-angka tersebut tidaklah mempengaruhi hasil pertandingan yang ditonton jutaan penonton tersebut.

Akan tetapi, terlepas dari kemonotonannya, pertandingan semalam membuat setiap pelatih dan pemain serta para penggemar sepakbola di seluruh dunia harus betul-betul mengambil pelajaran.

1). Setiap kejadian/ momen perlu stategi yang tepat.

Mungkin saya bukan merupakan komentator handal, namun saya - dan mungkin pembaca juga - dapat melihat dengan jelas bahwa strategi yang diusung Pep Guardiola tidaklah efektif membongkar lini pertahanan Chelsea. Yah...kita semua tidak bisa menafikkan bahwa strategi Tiki-Taka yang menjadi ciri khas Barcelona merupakan strategi yang mengusung sepakbola indah dengan mengandalkan operan satu-dua sentuhan. Namun, pada pertandingan semalam, dengan mengandalkan strategi tersebut, justru Barcelona frustasi. Ironisnya, tendangan-tendangan dari luar kotak penalti yang seharusnya banyak dilakukan jika menghadapi tim yang bertipe defensif, sangat jarang dilakukan. Mungkin karena ingin terus 'bermain indah'. Alhasil, strategi Tiki-Taka tidak mampu menembus pertahanan tim lawan.

Tidak sekali ini saja, Barcelona seringkali tersungkur dalam sebuah partai dimana lawannya menerapkan strategi bertahan efektif. 
---. Partai Semifinal Liga Champions 2010/2011,  Barcelona versus  Internazionaledi Camp Nou.
---. Partai Leg-I Liga Champions 2011/2012, Chelsea versus Barcelona di Stamford Bridge. 
---. Partai II El Classico musim 2011/2012, Barcelona versus Real Madrid di Camp Nou.

Partai-partai di atas menjadi contoh bahwa tidak selamanya strategi yang kita miliki akan tepat dilakukan pada semua momen yang dihadapi. Hal inilah yang seringkali menjadi bumerang dalam pertandingan semalam. Alih-alih ingin mempertontonkan sepakbola indah justru gawang sendiri yang kebobolan.

2). Setiap orang harus dan akan terus belajar

Barcelona adalah tim besar. Kedigdayaan Barcelona seolah tidak bisa tergantikan dalam 3 tahun terakhir ini. Lawan-lawan yang mereka hadapi pun seringkali telah gusar duluan jika mengetahui bahwa lawannya nanti adalah tim yang bermarkas di Camp Nou ini. 

Akan tetapi, fakta inilah yang menjadi motivator utama bagi seluruh lawan-lawan el Barca. Para peracik strategi dipaksa berpikir keras untuk mencari formula terbaik untuk meredam agresivitas tim Catalan ini. Seluruh strategi dan formasi telah dicoba. Jual beli pemain untuk menyokong terlaksananya strategi tersebut pun telah dilakukan dengan nilai yang gila-gilaan
Sampai akhirnya...........!

Beberapa pelatih telah menemukan strategi terbaik untuk mengalahkan Barcelona. Yah...jika menilik penampilan Chelsea semalam atau Real Madrid dalam el Classico beberapa hari lalu, maka Barcelona dapat digoyahkan dengan strategi yang defensif efektif. Startegi bertahan sambil memanfaatkan counter attack yang cepat telah menjadi pilihan Roberto Di Matteo sebagao arsitek Chelsea maupun Jose Mourinho di Real Madrid.

Ironisnya, Barcelona ternyata seakan diam saja dan tidak bisa mengubah cara mainnya. Sepakbola Tiki-Taka terus dilakukan dimana pada saat yang sama, tim lain telah menemukan resep baru untuk menghalau laju serangan Barcelona dengan strategi tersebut. Menurut saya, inilah yang menjadi salah satu penyebab tim kebanggaan saya ini harus kalah.

Yah...semuanya seharusnya terus belajar. Terus memperbaiki diri. Terus menyempurnakan diri. Mungkin pada suatu momen, sebuah strategi akan berhasil. Tetapi, saat ada momen yang lain, tidak menutup kemungkinan strategi awal tersebut sudah tidak sanggup lagi untuk diterapkan.

3). Hidup itu ibarat putaran roda; kadang di atas, kadang di bawah

Kata bijak di atas sedikit banyak menggambarkan kondisi tim berjuluk Blaugrana ini. Setelah merasakan kesuksesan selama beberapa tahun, akhirnya, pada musim ini, tim yang dibesut oleh Guardiola ini harus, merasakan pahitnya kekalahan di kompetisi yang sangat bergengsi. Chelsea dan Real Madrid menjadi sandungan yang berharga untuk memaknai kehidupan ini. Tentunya, kekalahan ini harus dimaknai secara positif. Sandungan ini harus menjadi motivasi besar untuk memperbaiki diri demi pencapaian yang lebih apik di kemudian hari.

4) Keikhlasan menerima hasil setelah berproses maksimal 

Inilah yang selanjutnya menjadi fokus pandangan saya dalam tulisan ini. Walaupun kalah, tetapi kalah harus terhormat. Tidak perlu marah-marah. Tidak perlu mencari kambing hitam. Tidak perlu sesak. Para pemirsa di seantero dunia semalam dapat menyaksikan para pemain Barcelona yang dengan gagahnya menyalami para pemain Chelsea atas kemenangannya. Seluruh pemain berikut pelatihnya mengucapkan selamat atas pencapaian mereka. Tidak ketinggalan dengan para suporternya. Para fans justru memberikan standing applaus kepada seluruh pemain idolanya. Mereka terus bernyanyi. Tidak ada kegalauan. Tidak ada sedih berlebihan. Dan tidak ada kericuhan. Semua berjalan normal. Semua berjalan dengan indah. Karena semuanya tahu bahwa ini hanyalah sebuah pertandingan (chm).













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19