Tentang Mutasi dan Varian Baru Virus COVID-19

Perhatikan kalimat ini!

VIRUS INI TIDAK R4M4H

Walaupun huruf A pada kata terakhir diganti dengan angka "4", saya yakin kita pasti masih paham bahwa yang dimaksud adalah kata "RAMAH". Dari sini, kita coba memahami tentang konsep sederhana mutasi virus SARS-CoV-2 yang sedang menyedot atensi dunia.

Sebagaimana organisme lain, virus pun memiliki susunan asam amino yang kemudian bergabung menjadi protein. Pada SARS-CoV-2, ada 4 protein kunci yaitu protein spike (S), nucleocapsid (N), envelope (E) dan membrane (M). Setiap protein tersebut memiliki susunan asam amino unik yang kemudian menentukan karakteristik virus COVID-19. Adanya perubahan/mutasi pada susunan asam amino dari protein tersebut bisa berujung pada perubahan karakter virus tersebut. Perubahan yang terjadi bisa berupa penambahan, penghilangan, dan pertukaran asam amino.

Nah, anggaplah susunan asam amino penyusun virus COVID-19 memiliki susunan seperti kalimat di atas "VIRUS INI TIDAK RAMAH". Setiap huruf mewakili satu jenis asam amino.

Sederhananya, bermutasi berarti "berubah". Jika ada perubahan pada susunan kalimat di atas, maka bisa pula kita katakan bahwa kalimat tersebut telah mengalami "mutasi". 

Nah, menurut catatan, sejak dideteksi pertama kali setahun lalu, virus COVID-19 telah ribuan kali mengalami mutasi. Jika begitu, mengapa hanya mutasi yang terdeteksi bulan ini di UK-lah yang justru menarik perhatian luas? Padahal kan mutasi virus ini sudah terjadi ribuan kali? Jawaban sederhananya, karena mutasi yang terjadi sebelumnya tidak secara signifikan mengubah susunan kalimat/asam amino virus tersebut. Walaupun ada perubahan asam amino, mutasi itu tidak membawa makna berarti.

Untuk lebih jelas, lihat kembali contoh sederhana di atas.

Saat kita mengganti huruf A dengan angka 4, kita tetap paham bahwa yang dimaksud adalah kata "RAMAH". Ada perubahan huruf menjadi angka, tetapi mutasi ini tetap dapat dimengerti.

Contoh lain, guys!

VIRUS INI TIDAK RAMAH ==> VIRUS INI TAK RAMAH

Pada kalimat ini, kata TIDAK digantikan oleh kata TAK. Terjadi penghilangan huruf "I" dan "D". Apakah perubahan ini mengubah makna kalimat? Jawabannya tentu tidak. Kalimatnya tetap memiliki arti yang sama. Walau kalimat itu telah mengalami mutasi, tetapi itu tidak mengubah makna kalimat. Dalam kasus COVID-19, meskipun mutasi telah terjadi ribuan kali, tetapi mutasi tersebut tidak mengubah karakteristik virus tersebut secara umum.

Contoh lain lagi...!

VIRUS INI TIDAK RAMAH ==> VIRUS INI TIDAK MARAH

Nah, pada kalimat ini ada perubahan pada kata RAMAH menjadi MARAH. Perubahan hanya terjadi pada dua tempat. Huruf R diganti huruf M. Huruf M tergantikan huruf R. Hasilnya? Terjadi perubahan makna 100%. Kata RAMAH berubah menjadi MARAH. Dan kedua kata ini memiliki makna yang  sangat bertolak belakang. Mutasi yang mengubah makna/sifat/karakter seperti inilah yang perlu diawasi. Mari kita kaitkan dengan mutasi virus COVID-19.

Mengapa varian baru SARS-CoV-2 hasil mutasi yang dideteksi di UK menarik perhatian banyak orang? Seperti yang telah disinggung di atas, jawabannya karena mutasi yang terjadi dicurigai mengubah karakteristik virus yang akhirnya dapat mempengaruhi tingkat infeksi dan penyebaran virus COVID-19. Mutasi yang dialami oleh virus tersebut terjadi di tempat yang menentukan ikatan antara virus COVID-19 dan sel manusia yaitu di protein spike (S). Menurut laporan, mutasi utama yang terjadi berupa penggantian asam amino di posisi 501 pada protein S dimana asam amino bernama asparagin digantikan oleh tirosin. Mutasi pada posisi ini dilaporkan dapat membuat ikatan antara protein S virus COVID-19 dan sel manusia menjadi lebih kuat. Ini yang menjadi dasar utama, sehingga varian baru hasil mutasi ini terus dimonitor secara ketat.

Pertanyaan lain yang muncul dari varian baru ini terkait dengan tingkat keparahan yang dialami pasien yang terinfeksi. Sampai saat ini, belum ada bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa varian ini lebih mematikan daripada virus COVID-19 awal. Walaupun varian ini diklaim lebih mudah menyebar dan menyerang sel-sel manusia, tetapi hal ini tidak bisa langsung diartikan bahwa varian ini lebih mematikan. Jika begitu, maka itu berarti bahwa mutasi yang terjadi juga berpeluang menjadikan virus ini menjadi lebih lemah. 

Biar bagaimapun, jika bercermin dari kasus mutasi virus-virus lainnya, memang ada kasus dimana mutasi yang terjadi justru menyebabkan virus awal menjadi lebih lemah. Contoh untuk kasus ini adalah virus H1N1 yang menyebabkan Spanish Flu di tahun 1918. Namun, adapula kasus mutasi yang justru membuat virus awal menjadi lebih sukar dibasmi. Contoh yang paling pas untuk ini adalah virus HIV. Oleh karena itu, tentu saja kita masih perlu menunggu hasil penelitian yang dapat menyimpulkan tingkat keparahan yang dipicu oleh varian baru virus COVID-19 ini.

Pertanyaan penting lain "Apakah vaksin yang sedang dikembangkan dan, bahkan, telah diberikan tersebut tetap akan efektif melawan varian baru ini?"

Lagi...jawabannya kita tetap harus menunggu hasil pastinya.

Berita baiknya, menurut laporan dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), vaksin yang telah disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Administration (BPOM-nya Amerika Serikat) diharapkan dapat memicu produksi antibodi yang menyerang beberapa bagian dari protein S. Jadi, kalaupun ada mutasi di bagian tertentu dari protein S (misalnya pada asam amino posisi 501), antibodi tersebut diharapkan masih dapat menyerang bagian lainnya dari protein S. Pada titik ini, pihak CDC masih optimis bahwa vaksin yang telah beredar sekarang akan efektif terhadap varian baru ini.

Semoga pandemi ini cepat berakhir...!


 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19