Gagal Terpilih, Antipsikosis Menanti

Pemilihan Umum 2019 telah selesai. Rakyat Indonesia yang telah memenuhi syarat baik di dalam dan di luar negeri telah menunaikan hak pilihnya. Hasil quick count pun telah dirilis. Dua pasangan capres-cawapres telah mengetahui hasil quick count tersebut dengan respons yang berbeda. Para pengurus partai pun telah mengetahui hasil perolehan suara untuk partainya. Para calon legislator pun telah mengetahui hasil pemilu kemarin. Bagi yang terpilih, pasti bahagia. Bagi yang tidak terpilih menjadi legislator, pasti ada rasa merana. Nah, bagi yang level merananya begitu besar, tidak jarang berimbas pada perubahan mental dan perilaku. Alhasil, orang-orang ini yang sepertinya akan menjadi pasien dari rumah sakit-rumah sakit yang menyiapkan pelayanan khusus untuk caleg yang gagal.

Nda mauja' membahas aspek sosial, budaya, kejiwaan, apalagi politik, dalam tulisan ini. Bukanka' ahli untuk aspek-aspek tersebut. Mauja' sedikit sharing kira-kira kalo para caleg stres tersebut masuk perawatan di rumah sakit, obat apa yang bakal dikasikanki'.

***

Gangguan mental sering disamakan dengan skizofrenia (schizophrenia). Walaupun tidak persis sama, anggapan ini juga tidak sepenuhnya salah. Gangguan kejiwaan memiliki makna yang relatif lebih luas, sedangkan skizofrenia merujuk pada gangguan kejiwaan khusus dengan gejala-gejala psikosis yang nyata, misalnya halusinasi (melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada), delusi (merasa diri menjadi orang lain), dan gangguan perilaku serta bicara. Gejala-gejala inilah yang menjadi alasan sehingga pasien skizofrenia sering disamakan dengan "orang gila". 

Pada titik ini, saya ingin menghimbau agar kita menghindari penggunaan kata "orang gila". Kata ini memiliki makna sosial dan stigma yang besar. Di kalangan kita, saat kata "orang gila" terdengar, maka masih banyak dari kita yang langsung resisten, mengganggu, mengusir, bahkan memingit orang tersebut. Padahal, penderita skizofrenia adalah orang sakit. Sebagaimana orang sakit yang lain, maka mereka harus di-treatment sesuai prosedur dan standar yang ada.

Terkait hal ini, obat-obat yang digunakan untuk terapi skizofrenia disebut antipsikosis. Sesuai namanya, antipsikosis digunakan untuk melawan gejala-gejala psikosis seperti yang telah disebutkan di atas. Banyak laporan yang mengonfirmasi bahwa jumlah penderita skizofrenia yang berhasil dalam terapinya setelah menggunakan antipsikosis tidaklah sedikit.

Antipsikosis dibagi menjadi dua golongan besar dengan karakteristik yang relatif berbeda. Perbedaan inilah yang menjadi dasar pemilihan obat pada kasus-kasus skizofrenia khusus. Salah satu perbedaan yang dimaksud berkaitan dengan mekanisme kerja yang berbeda antara kedua golongan antipsikosis tersebut. Merujuk pada studi-studi yang telah dilakukan, skizofrenia dikaitkan dengan peningkatan kadar neurotransmitter dopamine di otak. Selain itu, studi belakangan ini juga mengonfirmasi peningkatan neurotransmitter serotonin di saraf otak.

Antipsikosis generasi pertama (antipsikosis tipikal = antipsikosis konvensional)

Secara umum, antipsikosis generasi pertama (AGP) masih menjadi pilihan populer dalam terapi skizofrenia. Di antara seluruh obat yang termasuk AGP, klorpromazin (sering disingkat CPZ) dan haloperidol (HLP) masih memegang "tampuk peresepan antipsikosis" di Indonesia.

AGP bekerja melalui penghambatan ikatan antara dopamine dan reseptor D2. Melalui mekanisme ini, dopamine tidak dapat memunculkan efek farmakologisnya mengingat efek tersebut hanya akan muncul jika dopamine berikatan dengan reseptornya.

AGP dikaitkan dengan efek samping ekstrapiramidal. Efek samping ini ditunjukkan dengan gejala tremor, kejang, perlambatan gerakan, dan parkinsonisme (gejala seperti orang yang mengalami parkinson). Untuk mengatasi efek samping ini, maka seringkali kombinasi CPZ dan HLP dibarengi dengan pemberian THP (triheksifenidil).
  
Antipsikosis generasi kedua (antipiskosis atipikal = antipsikosis baru)

Berbeda dengan AGP, antipsikosis generasi kedua (AGK) tidak hanya memiliki aktivitas sebagai inhibitor dopamine, tetapi juga menunjukkan efek sebagai penghambat serotonin. Secara spesifik, AGK memblok ikatan antara serotonin dan reseptor 5HT2A. 

Beberapa obat yang termasuk AGK adalah risperidone, aripiprazole, clozapine, dan olanzapine. Sebagai informasi, aripiprazole, di bawah nama paten Abilify®️, merupakan "the biggest selling prescription drug in the US" berdasarkan informasi yang dirilis psychologytoday.com. Harga per tablet tercatat sekitar $30 atau sekitar Rp420.000 (kurs $1 = Rp14.000). Wowwwwww...!!!

AGK memiliki efek samping ekstrapiramidal yang relatif lebih kecil. Walaupun begitu, AGK tetap tidak lepas dari efek samping. AGK diketahui memiliki efek samping berupa gangguan metabolisme glukosa. Oleh karena itu, obat-obat ini perlu monitoring ketat jika diberikan kepada penderita diabetes mellitus. Lebih jauh, kombinasi AGK dengan obat-obat antidiabetic oral (ADO), misalnya biguanid dan sulfonil urea, tidak direkomendasikan mengingat efek antagonisme yang dapat terjadi.

***

Baik AGP maupun AGK perlu hati-hati diberikan pada pasien dengan gangguan irama jantung. Kedua golongan antipsikosis diasosiasikan dengan "pemanjangan interval QT". Apa itu interval QT? Ini adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan titik-titik tertentu pada kurva elektrokardiogram. Apami lagi itu elektrokardiogram (EKG)? Ini adalah alat yang digunakan untuk mengukur potensial aksi jantung. Apami lagi itu potensial aksi jantung? Waduh....ndak bakal selesai kalo begini. Hehehe. Nanti dibahas di lain tulisan ya...! Intinya, pemanjangan interval QT akan berakibat pada ganggung irama jantung. Jika dibiarkan, penderita bisa pingsan, bahkan sudden death.

***

Semoga hasil pemilu kemarin tidak berimbas pada gangguan kesehatan para caleg yang masih tetap berstatus caleg. Adapun bagi para caleg yang telah berstatus "leg" siapkan stamina agar mampu bekerja demi rakyat. Mau obat penambah stamina? Nanti dibahas di tulisan lain pula. 

Anda semua adalah wakil-wakil kami. Jadi, wakililah kami dengan baik...!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19