Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Tentang Mutasi dan Varian Baru Virus COVID-19

Perhatikan kalimat ini! VIRUS INI TIDAK R 4 M 4 H Walaupun huruf A pada kata terakhir diganti dengan angka "4", saya yakin kita pasti masih paham bahwa yang dimaksud adalah kata "RAMAH". Dari sini, kita coba memahami tentang konsep sederhana mutasi virus SARS-CoV-2 yang sedang menyedot atensi dunia. Sebagaimana organisme lain, virus pun memiliki susunan asam amino yang kemudian bergabung menjadi protein. Pada SARS-CoV-2, ada 4 protein kunci yaitu protein spike (S), nucleocapsid (N), envelope (E) dan membrane (M). Setiap protein tersebut memiliki susunan asam amino unik yang kemudian menentukan karakteristik virus COVID-19. Adanya perubahan/mutasi pada susunan asam amino dari protein tersebut bisa berujung pada perubahan karakter virus tersebut. Perubahan yang terjadi bisa berupa penambahan, penghilangan, dan pertukaran asam amino. Nah , anggaplah susunan asam amino penyusun virus COVID-19 memiliki susunan seperti kalimat di atas "VIRUS INI TIDAK RAMAH"

Simpang Siur Klorokuin

Klorokuin (dan hidroksiklorokuin) sedang naik daun. Di tengah serangan SARS-CoV-2, obat anti malaria ini sedang menemukan popularitasnya. Pasca pernyataan Joko Widodo  tentang impor klorokuin, berbondong-bondonglah masyarakat mencari klorokuin baik secara offline maupun online . Prinsip ekonomi sedang bermain. Alhasil, harga klorokuin meningkat berlipat-lipat. Persis yang terjadi sebelumnya pada masker dan ethanol. Pun, setelah pengumuman tersebut, kegaduhan lain muncul. Ada yang mengatakan bahwa klorokuin adalah obat corona yang ampuh. Ada pula yang berkata, klorokuin belum teruji secara klinis. Tulisan ini mencoba menjawab beberapa polemik seputar penggunaan klorokuin dalam terapi COVID-19. Apa itu klorokuin dan hidroksiklorokuin? Semula, klorokuin diketahui sebagai antimalaria. Belakangan, dikarenakan efek antiinflamasi yang dimilikinya, klorokuin juga digunakan sebagai terapi pada beberapa kondisi autoimun, seperti rheumatoid arthritis dan lupus. Klorokuin merupak

Vaksin Vs Serum: Mana Lebih Efektif?

The Wall Street Journal menginformasikan bahwa Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui penggunaan serum untuk terapi COVID-19 pada kondisi-kondisi tertentu. Berdasarkan berita tersebut, kondisi yang dimaksud antara lain pasien harus terdiagnosis COVID-19, life-threatening respiratory failure , syok sepsis dan multiple organ failure . Sebelumnya, kandidat terapi COVID-19 juga berkutat pada pengembangan vaksin. Beberapa kandidat vaksin telah memasuki fase 1 uji klinik. Meskipun masih ada 2 fase yang mesti dilalui sebelum terbukti efektif, vaksin-vaksin ini telah menjadi harapan warga dunia. Walaupun sama-sama merupakan produk biologi dan berkaitan erat dengan pembentukan antibodi, vaksin dan serum memiliki beberapa perbedaan mendasar. Komposisi Kandungan utama vaksin adalah mikroorganisme atau toksin atau fragmen mikroorganisme yang telah dimatikan atau dilemahkan. Karena telah dilemahkan, maka mikroba yang diberikan tersebut tidak akan menyebabkan penyakit, m

COVID-19: Hindari Overklaim Obat

Sudah jamak diketahui bahwa penemuan suatu obat bukanlah hal yang mudah dan singkat. Perlu uji-uji yang sangat kompleks untuk melengkapi data keamanan ( safety ) dan kemanjuran ( efficacy ) dari kandidat obat yang sedang dikembangkan. Tak jarang, butuh waktu bertahun-tahun dan dana besar untuk menjamin bahwa obat yang masuk ke tubuh pasien benar-benar aman dan mujarab. Obat yang ideal adalah obat yang mampu menyembuhkan penyakit dengan efek merugikan yang minimal. Banyak kandidat obat yang sukses menunjukkan potensi penyembuhan terhadap penyakit tertentu, tetapi kemudian gagal menunjukkan aspek keamanan yang memadai dan begitu pula sebaliknya. Dalam protokol penemuan dan pengembangan obat yang ditetapkan oleh lembaga terkait, misalnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Food and Drug Administration (FDA), uji preklinik pada hewan coba dan klinik (uji pada manusia) menjadi syarat utama yang harus dilakukan sebelum memberi klaim kemanjuran dan keamanan kandidat obat.

COVID-19: Hopes...!

Badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) per tanggal 4 April 2020 menurunkan laporan tentang perkembangan riset dan uji kandidat vaksin untuk COVID-19. Dalam laporan tersebut, ada 2 kandidat vaksin yang telah melaksanakan uji klinik fase 1 (tentang fase-fase uji klinik, silakan rujuk ke tulisan saya sebelumnya di sini ). Kedua kandidat vaksin tersebut dikembangkan oleh  CanSino Biological Inc./Beijing Institute of Biotechnology dan  Moderna/National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) dan masing-masing dilaksanakan di China dan Amerika Serikat. Sebenarnya, ada 1 kandidat vaksin lainnya dari Universitas Oxford yang tengah bersiap memulai uji klinik fase satu, tetapi belum melakukan perekrutan sukarelawan. Semoga dalam waktu dekat, proses perekrutan ini dapat segera dimulai. Laporan tersebut juga menurunkan daftar 59 kandidat vaksin lainnya yang sedang melaksanakan uji preklinik pada hewan. REMDESIVIR , sebuah obat antivirus baru, sedang menjalani p

Rokok Vs COVID-19

Telah diketahui bahwa virus penyebab COVID-19, SARS-CoV-2, menjadikan Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE2) sebagai reseptornya . ACE2 menjadi pintu bagi virus korona untuk masuk ke dalam sel-sel target, misalnya di organ paru. ACE2 adalah enzim yang berperan dalam sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAA). Sebagai kilas balik, sistem ini berfungsi dalam pengaturan tekanan darah. Saat tekanan darah terpantau menurun, maka sistem ini akan aktif. Sebaliknya, sistem ini akan menurunkan aktivitasnya saat sensor tubuh menyatakan bahwa terjadi peningkatan tekanan darah. Angiotensin II merupakan senyawa yang dihasilkan oleh sistem RAA dan memiliki fungsi kunci sebagai vasokonstriktor. Senyawa inilah yang bertanggung jawab dalam banyak kasus peningkatan tekanan darah. Penghambatan aktivitas angiotensin II, misalnya dengan obat-obatan ACE inhibitor atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB), menjadi salah satu strategi utama dalam penanganan kasus hipertensi. Pada titik ini, ACE2 men

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Yang namanya badai pasti selalu dikaitkan dengan efek membahayakan. Walau ada istilah "badai pasti berlalu", tetapi sebelum badai tersebut berlalu, banyak kerusakan yang akan terjadi. Tulisan ini mencoba mengulas cytokine storms , badai sitokin, yang ternyata berkaitan erat dengan kasus COVID-19. Kematian akibat SARS-CoV-2 sering dikaitkan dengan kasus kejadian pneumonia. Kondisi medis ini terjadi akibat adanya inflamasi atau peradangan di salah satu atau kedua organ paru. Salah satu penyebab utama terjadinya peradangan tersebut adalah infeksi bakteri atau virus. Peradangan atau inflamasi adalah body's first line of defense saat terjadi infeksi atau kondisi lainnya, misalnya cedera. Namun, inflamasi yang berlebihan justru akan menjadi masalah baru bagi si penderita. Secara normal, proses inflamasi dimulai dari fase pengenalan terhadap "penyerang" yang kemudian diikuti oleh fase rekruitmen dimana sel-sel imun bergerak ke arah penyerang tersebut. Fase se

Quaranta Giorni

Adalah Yersinia pestis yang menjadi penyebab serangan pandemi terbesar dalam sejarah umat manusia: Black Death . Dari namanya, sudah bisa ditebak betapa mematikannya pandemi ini. Apalagi saat itu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi belum semaju sekarang ini. Tak tanggung-tanggung, puluhan juta orang meninggal dunia. Sebagian besar korban berada di Asia dan Eropa.  Yersinia pestis adalah bakteri gram negatif berbentuk batang dan bersifat fakultatif anaerob. Wabah mematikan ini ditengarai berasal dari daerah Asia Timur dan Asia Tengah sekitar tahun 1340-an yang kemudian menyebar ke benua Eropa. Bakteri ini menggunakan kutu tikus sebagai reservoir- nya. Setelah menyerang populasi di Asia, pandemi ini pun bergerak ke Eropa. Salah satu negara pertama yang menjadi pintu masuk pandemi ini adalah Italia. Jalur penyebaran utamanya adalah kapal-kapal yang berlayar dari daerah yang telah terjangkit wabah menuju Italia. Di atas kapal-kapal tersebut banyak berkeliaran tikus-tikus yan

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Ke tiadaan obat pilihan untuk penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) menjadi salah satu determinan yang membuat kepanikan para warga dunia. Pasca diidentifikasi pertama kali pada bulan Desember 2019, para peneliti mulai berlomba dengan waktu untuk segera menemukan terapi terbaik untuk mengatasi infeksi SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Tentu saja menemukan senyawa baru atau entitas yang benar-benar baru sebagai antivirus SARS-CoV-2 bukanlah perkara mudah. Perlu berbagai uji dan tahapan sampai akhirnya obat tersebut memasuki pasar dan dicobakan pada pasien. Itupun jika obat tersebut benar-benar berhasil ditemukan. Tulisan ini mencoba mengulas seluk-beluk proses drug discovery dan mencoba mengaitkannya dengan konteks pandemic COVID-19. Dalam tulisannya di tahun 2018, Sandra O’Connell, seorang koresponden Irishtimes , menurunkan tulisan dengan judul “ The long, costly, risky process of drug development ” (1). Judul ini sudah dapat menjadi kesimpulan jalan terjal dan ber