Vaksin Vs Serum: Mana Lebih Efektif?

The Wall Street Journal menginformasikan bahwa Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui penggunaan serum untuk terapi COVID-19 pada kondisi-kondisi tertentu. Berdasarkan berita tersebut, kondisi yang dimaksud antara lain pasien harus terdiagnosis COVID-19, life-threatening respiratory failure, syok sepsis dan multiple organ failure.

Sebelumnya, kandidat terapi COVID-19 juga berkutat pada pengembangan vaksin. Beberapa kandidat vaksin telah memasuki fase 1 uji klinik. Meskipun masih ada 2 fase yang mesti dilalui sebelum terbukti efektif, vaksin-vaksin ini telah menjadi harapan warga dunia.

Walaupun sama-sama merupakan produk biologi dan berkaitan erat dengan pembentukan antibodi, vaksin dan serum memiliki beberapa perbedaan mendasar.
  1. Komposisi

    Kandungan utama vaksin adalah mikroorganisme atau toksin atau fragmen mikroorganisme yang telah dimatikan atau dilemahkan. Karena telah dilemahkan, maka mikroba yang diberikan tersebut tidak akan menyebabkan penyakit, melainkan akan memicu tubuh untuk mengaktifkan sistem pengenalan terhadap mikroba yang diberikan. Konsekuensinya, jika pada suatu ketika terjadi serangan mikroba yang sama, maka sistem ini akan segera teraktifkan, sehingga proses pembasmian mikroba akan berlangsung lebih cepat.

    Adapun kandungan utama serum atau sera adalah antibodi dari penyebab penyakit (misalnya, penyakit X) yang sering dikenal dengan istilah antigen. Sera dipersiapkan dengan cara mengambil antibodi dari darah organisme (hewan atau manusia) yang dinyatakan sembuh dari penyakit X tersebut. Dalam kasus COVID-19, darah dari pasien yang telah sembuh diambil darahnya lalu dengan metode ekstraksi tertentu, antibodinya diambil. Antibodi inilah yang nantinya akan diberikan kepada pasien yang sedang menderita penyakit X.

  2. Onset dan durasi

    Onset adalah durasi kerja obat sejak awal diberikan sampai muncul efek untuk pertama kalinya. Adapun durasi adalah lama kerja obat sejak efek pertama kali muncul sampai efek tersebut hilang. Setiap obat memiliki onset dan durasi yang berbeda.

    Dalam kasus vaksin dan serum, secara umum, vaksin memiliki onset yang relatif lebih lambat, tetapi durasi kerjanya lebih panjang. Adapun sera menunjukkan onset yang lebih cepat dan durasi yang lebih pendek.

    Sebagai contoh, vaksin virus influenza membutuhkan waktu sekitar 2 pekan untuk menstimulasi atau mengaktifkan sistem pembentukan antibodi di dalam tubuh. Namun, sekali teraktifkan, maka sistem ini akan terjaga bertahun-tahun.

    Sebaliknya, serum anti bisa ular memiliki onset yang cepat. Begitu masuk ke dalam darah, maka antibodi ini langsung bekerja meng-inaktifkan antigen target. Kita tidak bisa bayangkan jika bisa ular ditangani pakai vaksin kan? Walaupun begitu, durasi serum anti bisa ular tidak bisa bertahan lama. Jika kemudian gigitan ular terjadi lagi, maka orang tersebut harus diberikan serum lagi.

  3. Tujuan pemberian

    Masih terkait dengan penjelasan di atas, secara umum dan logis, vaksin ditujukan untuk upaya pencegahan dan serum untuk pengobatan. Vaksin biasanya diberikan sebelum terjadi serangan penyakit tertentu. Adapun sera digunakan untuk segera mengatasi gangguan yang terjadi, baik karena serangan mikroba, keracunan atau penyebab lainnya.
Namun demikian, kedua produk biologi ini memiliki persamaan terkait dengan spesifikasi terapi. Baik vaksin maupun serum sama-sama memiliki spesifikasi yang sempit. Artinya, vaksin dan serum hanya melindungi dari penyakit atau mikroorganisme yang telah ditargetkan. Vaksin dan serum tidak dapat melindungi dari semua jenis serangan virus. Vaksin polio hanya untuk membasmi virus polio. Serum anti digoxin diberikan hanya untuk melawan efek toksisitas digoxin.

Dalam konteks COVID-19, manakah yang lebih efektif: vaksin atau serum?

Jawabannya: keduanya bisa efektif. 

Hanya saja tergantung pada status orang yang akan diberikan. Sebagai pencegahan, maka vaksin sering diberikan pada mereka yang sehat. Sebaliknya, serum akan segera efektif pada mereka yang sedang menderita penyakit tertentu. 

Izin yang diberikan FDA untuk pengujian serum anti SARS-CoV-2 kembali menjadi harapan di tengah pandemi ini. Mari terus berharap dan berdo'a agar pandemi ini segera berakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19