Rokok Vs COVID-19

Telah diketahui bahwa virus penyebab COVID-19, SARS-CoV-2, menjadikan Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE2) sebagai reseptornya. ACE2 menjadi pintu bagi virus korona untuk masuk ke dalam sel-sel target, misalnya di organ paru.

ACE2 adalah enzim yang berperan dalam sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAA). Sebagai kilas balik, sistem ini berfungsi dalam pengaturan tekanan darah. Saat tekanan darah terpantau menurun, maka sistem ini akan aktif. Sebaliknya, sistem ini akan menurunkan aktivitasnya saat sensor tubuh menyatakan bahwa terjadi peningkatan tekanan darah.

Angiotensin II merupakan senyawa yang dihasilkan oleh sistem RAA dan memiliki fungsi kunci sebagai vasokonstriktor. Senyawa inilah yang bertanggung jawab dalam banyak kasus peningkatan tekanan darah. Penghambatan aktivitas angiotensin II, misalnya dengan obat-obatan ACE inhibitor atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB), menjadi salah satu strategi utama dalam penanganan kasus hipertensi.

Pada titik ini, ACE2 menunjukkan perannya. Tugas utama ACE2 adalah memetabolisme angiotensin II (dan juga angiotensin I) menjadi metabolit yang tidak aktif (angiotensin 1-7). Jadi, ACE2 berfungsi sebagai kontrol atas kemungkinan hiperaktivitas dari angiotensin II.

Dalam kasus COVID-19, SARS-CoV-2 akan berikatan dengan ACE2 di permukaan sel di saluran pernafasan dan paru. Ikatan ini akan mengaktifkan proses masuknya virus ke dalam sel. Proses ini dibantu pula oleh enzim transmembrane protease serine 2 (TMPRSS2) di permukaan sel inang yang berfungsi untuk mengaktifkan spike (duri) virus.

***

Dengan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa individu dengan ekspresi atau jumlah ACE2 yang lebih banyak akan memberi peluang yang lebih besar bagi SARS-CoV-2 untuk masuk ke dalam sel dan memperbanyak dirinya. Sebaliknya, penghambatan pada aktivitas ACE2, secara logis, akan menekan jumlah virus yang masuk ke dalam sel.

Lantas, bagaimana hubungan ACE2 dan aktivitas merokok?

Penelitian yang dilakukan oleh Smith dan Sheltzer (2020) yang dipublikasikan 31 Maret 2020 menunjukkan bahwa ekspresi ACE2 pada paru-paru mamalia (mencit, tikus dan manusia) mengalami peningkatan yang signifikan setelah terpapar asap rokok. Kadar ACE2 pada individu perokok ditemukan lebih banyak dibandingkan mereka yang menjauhi aktivitas ini. Sebaliknya, saat paparan asap rokok dihentikan, maka ekspresi ACE2 pun mengalami penurunan.

Penelitian ini memang tidak menguji secara langsung SARS-CoV-2 pada individu perokok dan non-perokok. Namun, data ini dapat memberikan penjelasan parsial mengapa individu perokok memiliki "keistimewaan" dalam infeksi COVID-19.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengutip kalimat terakhir dari abstrak yang ditulis. "Quitting smoking could lessen coronavirus susceptibility". - Berhenti merokok mungkin dapat menurunkan kerentanan terhadap virus korona.

Komentar

  1. maaf pak. mau tanya. bagiaman dengan penelitian yg mengatakan bahwah curcumin dapat meningkatkan ekspresi ACE2 di ekstrasel... apakah ini berbahaya bagi penderita covid19?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?