Isu Islam Radikal Kembali Mencuat di Tragedi Bom Boston

Setelah bekerja keras selama kurang lebih 2-3 hari, kepolisian Boston yang dibantu biro intelejen federal Amerika Serikat (FBI) akhirnya menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pihak yang berwenang merilis foto tersangka peledakan bom yang terjadi di tengah kerumunan penonton yang menyaksikan event Boston Marathon pada hari Senin, 15 April 2013, lalu.

Adalah Tamerlan Tsarnaev dan Dzhokhar Tsarnaev yang diduga kuat menjadi dalang peledakan bom yang menewaskan 3 orang itu. Kedua kakak-beradik ini merupakan imigran dari Chechnya. Sang kakak sendiri, Tamerlan, telah tewas diberondong peluru petugas keamanan. Namun, untuk Dzhokhar masih belum bisa dipastikan keberadaannya. Polisi masih terus mengejar sang terduga pelaku ini. Saya pribadi berharap agar pelaku pemboman Senin lalu itu dapat segera tertangkap dan diadili seberat-beratnya. 

Terkait latar belakang ke-2 terduga ini, berbagai dugaan motif pun berkembang. Dalam tulisan yang diturunkan oleh akun twitter Time.com, salah satu dugaan motif atas peristiwa pemboman itu adalah latar belakang sejarah ke-2 pelaku yang merupakan keturunan etnis Chechnya. Seperti yang kita ketahui, Chechnya sendiri, sebelum meraih kemerdekaannya, sempat mengalami kerusuhan berdarah pasca deklarasi untuk memisahkan diri dari Rusia. Ribuan orang etnis Chechnya harus meregang nyawa akibat serangn mematikan dari tentara Rusia. Menyikapi dugaan ini, petinggi Chechnya segera melayangkan pernyataan bahwa tidak mungkin ke-2 kakak beradik itu bisa terpengaruh dengan kejadian di Chechnya beberapa tahun silam. Hal ini dikarenakan mereka sejak kecil sudah berimigrasi ke Amerika Serikat sehingga tentu proses perkembangan mereka sangat dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan di AS.

Dugaan lainnya apalagi kalau bukan isu terorisme berbalut Islam. Menurut orang tuanya, ke-2 anaknya adalah anak yang baik, tetapi jika mereka berubah, pasti ada sesuatu yang mempengaruhinya. Sesuatu itu, menurut sang ayah, adalah nilai-nilai Islam radikal.

Imam Shamsi Ali sendiri sudah mengutuk keras peristiwa peledakan bom Boston tersebut. Melalui akun twitternya, sang Imam menumpahkan kekesalannya atas tindakan tak bermoral dari pelaku pemboman itu. Jika memang Tamerlan dan Dzhokhar lah yang benar-benar menjadi pelakunya, maka hal ini akan sangat merugikan citra umat Islam, terutama yang bermukim di AS. Upaya-upaya untuk mengembalikan citra  dan menghilangkan stigma negatif Islam yang telah dibangun selama ini justru dihancurkan sendiri oleh sesama penganut Islam. Upaya dakwah yang dilakukan oleh para ulama di AS untuk terus memperkenalkan Islam harus menghadapi tembok tebal karena ulah bejat mereka.

Namun begitu, saya tetap berharap agar peristiwa ini jangan digeneralisasikan dengan agama yang dianut sang manhunt. Biar bagaimanapun, Islam tidak mengajarkan kekerasan, apalagi kalau sampai melakukan pembunuhan. Mari tetap melihat secara objektif terkait kejadian memilukan di Boston ini.

Salam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19