Sindrom Lampu Lalu-Lintas Warna Kuning

Lampu lalu-lintas - sebagian masyarakat lebih familiar dengan istilah "lampu merah" - bertujuan untuk menertibkan para pengendara kendaraan bermotor maupun pengguna jalan yang lain. Demi tujuan ini, maka lampu lalu-lintas dibuat dengan 3 warna indikator yakni merah, hijau dan kuning. 

Sejak Sekolah Dasar, para guru-guru tercinta kita sudah memahamkan kita tentang makna dari ke-3 warna itu. Jika lampu lalu-lintas berwarna merah, maka itu menandakan STOP. Jangan mentong lewat! Sebaliknya, jika lampunya menunjukkan warna hijau, maka para pengendara atau pejalan kaki bisami LEWAT. Terakhir, jika lampunya menyala kuning, maka itu berarti kita mesti hati-hati, siap-siap atau waspadalah-waspadalah ala Bang Napi. Warna kuning menandakan sedikit lagi akan terjadi perubahan "status" entah dari warna merah ke hijau atau hijau ke merah. Nah, di sinilah kadang para pengguna jalan galau. Memang dimana-mana yang namanya perubahan status selalu membawa kegalauan, sodara-sodara. Status jomblo yang berubah menjadi super jomblo, tentu akan membawa kegalauan yang lebih hebat. Status super jomblo yang berubah menjadi super duper jomblo pun demikian. Eh..! 

Lebih jauh, kegalauan para pengendara tatkala lampu kuning menyala dikonversikan melalui tindakan-tindakan yang tidak semestinya dilakukan. Sebagai contoh, saat lampu kuning menyala yang menandakan warna lampu akan segera berubah dari hijau ke merah, maka kegalauan itu ditunjukkan dengan semakin tingginya tarikan gas kendaraan bermotor. Di sinilah... di sinilah, sodara-sodara! Di sinilah kadang saya merasa sedih, jengkel, cemas bin geregetan. Sudah dikatakan bahwa warna kuning mesti hati-hati, eh...di sini...di negara kita tercinta ini, lampu kuning justru memiliki makna lain yaitu TINGKATKAN KECEPATAN! AYOOO...PACU TERUS MOTORMU! Makanya, banyak sekali kecelakaan saat kondisi ini yang terjadi. Bukannya hati-hati, ini malah mencari mati. Tapi, begitulah dunia, sodara-sodara! Bukankah banyak kegalauan yang berakhir tragis? Ah..sudahlah!

Sebaliknya, jika warna kuning menjadi penanda bahwa lampu merah akan segera beralih status menjadi lampu hijau, maka klakson-klakson kendaraan lain di belakang kita akan segera berbunyi. Mungkin niatnya baik yakni ingin mengingatkan agar kita tidak tidur, makan, selonjoran atau ngupil karena maumi hijau lampunya, toh! Tetapi, saya pribadi merasa terganggu dengan kebiasaan ini. Hal ini lebih berarti KETIDAKSABARAN. E..de..de..sabar maki, Bos! Nda' adaji juga yang sedang minta aksi "Om...telolet...Om!". Hehe. Bukankah ustad dan guru-guru kita sudah mengingatkan kita agar bersabar dalam hidup, termasuk saat lampu merah akan berubah menjadi hijau? 

Begitu lampu hijau benar-benar menyala dengan gagahnya, maka seketika itu pula lonjakan tarikan gas kendaraan bermotor, utamanya motor, terjadi dengan akselerasi tinggi. Bahkan, ada yang semi-jumping saking tingginya akselerasinya. Mumpung jalanan di depan lagi kosong melompong. Iya kan

Nah...jika sudah begini, maka alamat kecelakaan bisa terjadi. Dari arah jalan lain ada pemotor yang memacu motornya dengan sangat kencang karena lampu hijau sedikit lagi akan merah dan dari arah yang lain para pemotor telah menarik gas dengan kencang pula karena lampu merah akan berubah menjadi hijau. Duarrr...! Mereka inilah yang saya sebut sebagai pengidap "sindrom lampu lalu-lintas warna kuning".

Kesimpulannya, santai aja, bro! Lampu-lampu lalu-lintas itu mesti dihormati. Pahami, hayati dan amalkan pemahaman kita tentang lampu lalu lintas itu. Hargai pengorbanannya yang telah rela berdiri sepanjang waktu, tidak peduli siang terik melanda, malam dingin mencekam, hujan badai mendera atau panas menyegat tak terperi, sang lampu lalu-lintas tetap berdiri gagah di situ...di tempatnya...untuk menertibkan kita semua. Jikapun ada kondisi dimana sang lampu lalu-lintas tidak dapat bekerja lagi, mungkin itu berarti sedang terjadi tawuran di area tersebut. Sepertinya salah satu lemparan batu sukses "merobek-robek" nyala sang lampu. Beuhh..!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19