Pengalaman Berpuasa di AS

Alhamdulillah.

Bulan Ramadhan 1434 H telah datang kembali menyapa seluruh umat Islam di seluruh dunia. Ini berarti bahwa rukun Islam ke-3 wajib untuk ditunaikan sebulan penuh. Inilah bulan dimana seluruh muslim diajak untuk berbanyak-banyak berbuat baik dan tentu saja, meningkatkan ibadahnya kepada Allah SWT. Kenapa? Karena Allah SWT menjanjikan bahwa pada bulan ini, segala perbuatan baik akan dilipatgandakan nilai pahalanya. Bahkan, tidur sekalipun terhitung sebagai ibadah pada bulan ini.

Ramadhan tahun ini, 2013, saya menunaikan ibadah puasa di negeri orang. Tepatnya di Amerika Serikat. Sebenarnya, ini adalah pengalaman ke-2 saya merasakan aura Ramadhan di AS karena saya telah berada di sini sejak 14 Agustus 2012. Saat itu, Lebaran jatuh pada tanggal 19 Agustus 2012. Itu berarti saya punya waktu sekitar 1 minggu untuk bisa berpuasa. Namun, karena kondisi tidak memungkinkan dan ditambah dengan proses adaptasi yang agak lama, maka pada 6 hari yang tersisa tersebut saya memutuskan untuk tidak berpuasa. Karena itulah, walaupun Ramadhan kali ini adalah yang ke-2 saya berada di AS, tetapi sejatinya ini adalah Ramadhan pertama saya dimana saya benar-benar harus melaksanakan ibadah ini.

Tentu saja, sebagai "pemula", saya menemukan bahwa berpuasa di AS sedikit lebih berat dibandingkan di negeri sendiri, Indonesia. Paling tidak ada beberapa hal yang mendasari, sehingga saya mengatakan hal itu.
  1. AS adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Kristen. Islam adalah agama mayoritas di negeri ini. Tentu saja, struktur demografi yang seperti ini memberikan perbedaan besar bagi muslim untuk bisa menikmati masa-masa berpuasanya. Sebagai contoh, jika di Indonesia akan dengan mudah ditemukan penganan untuk berbuka dan sahur, maka jangan harap hal-hal seperti itu dapat ditemui di sini.
  2. Lamanya waktu berpuasa. Puasa tahun ini bertepatan dengan musim panas. Itu berarti bahwa siang hari akan lebih panjang dibandingkan malamnya. Tidak seperti di Indonesia yang jika dirata-ratakan waktu siang dan malamnya sekitar 12 jam, di sini, waktu siangnya (terhitung sejak matahari terbit sampai tenggelam) adalah 15 jam. Matahari terbit pukul 06.00 dan tenggelam 09.00. Hal ini berimbas pada lamanya waktu berpuasa. Jika terhitung waktu Imsak (sekitar pukul 4.30), maka total seorang muslim di AS berpuasa selama 16-17 jam. Sebagai orang yang sebelumnya terbiasa dengan lama berpuasa 12 jam, maka hal ini tentu saja menjadi sebuah tantangan tersendiri.
  3. Waktu pelaksanaan sholat. Masih terkait dengan perbedaan waktu di musim panas ini, waktu-waktu sholatpun tidak seperti di Indonesia yang tetap (Shubuh 05.00; Dzuhur 12.00; Ashar 03.00; Maghrib 06.00; Isya/ Tarawih 07.00). Di sini, waktu sholatnya sebagai berikut : Shubuh 04.30; Dzuhur 01.30; Ashar 05.30; Maghrib 09.00; dan Isya 11.00. Anda bisa bayangkan bagaimana menunaikan sholat Isya/Tarawih jam 11 malam. Mengantuk...! Hehe. 
Paling tidak, 3 hal ini yang menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan ibadah puasa seorang muslim di AS. Namun, tentu saja hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menangguhkan rukun Islam ke-3 ini. 

Selamat menunaikan ibadah puasa 1434 H. Semoga kita bisa melaluinya dengan baik dan pada akhirnya menjadi juara sebulan kemudia. Aamiin.
 

Komentar

  1. kodooong kak kamtoo :(
    semangat mami ki naah....
    .
    kalo rindu sama es pisang ijo, es pallu butung, es buah, es cendol...nyamnyamnyam....bikin sendirimikii,,hehehehe...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19