Serius, tapi Santai

Seperti biasa, setiap Selasa dan Kamis, pada pukul 11.15 – 12.30, saya memiliki agenda perkuliahan Toksikokinetik. Kuliah ini sebenarnya membosankan, tapi pada saat mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan, saya justru merasa nyaman. Hehe.


Hari ini, tidak seperti biasanya, sang dosen memulai perkuliahan dengan acara bagi-bagi permen dan coklat. Whoalah…asyiknya! Tentu saja, tidak sekedar dibagi, sang dosen juga tidak melarang mahasiswanya untuk menikmati snack yang diberikan tersebut saat perkuliahan berlangsung. Pokoknya santaiiii..!


Entah mengapa, beberapa dosen di sini memang memiliki kebiasaan ini. Pada minggu-minggu tertentu, dosen-dosen tersebut membawakan mahasiswanya permen, cemilan, dan coklat untuk disantap. Kami pun menikmatinya dengan senang hati karena selain enak, yang terpenting adalah gratis. Yah…memang gratis. Artinya, permen dan cemilan tersebut memang sengaja dibeli oleh sang dosen demi mahasiswanya. Ajiibbbbb…!




[caption id="attachment_119" align="aligncenter" width="300"]Sekeranjang cemilan yang dibawa sang dosen. (doc. pribadi) Sekeranjang cemilan yang dibawa sang dosen. (doc. pribadi)[/caption]

Namun, tentu saja apa yang dilakukan oleh dosen-dosen murah hati ini bukan tanpa maksud. Ada udang di balik rempeyek. Hehe. Namun, maksud yang tersembunyi tersebut adalah maksud baik. Dengan memberikan cemilan, maka seakan-akan dosen itu ingin mengatakan kepada kami bahwa tidak perlu kaku alam mengikuti perkuliahan. Santai aja, bro…! Mungkin seperti itu.


Hal ini adalah sesuatu yang sangat penting. Saat menimba ilmu, tentu saja pikiran dan tindakan kita haruslah tidak di bawah tekanan. Tekanan yang berlebihan akan mempengaruhi proses transfer ilmu yang dilakukan sang dosen kepada mahasiswa.




[caption id="attachment_120" align="aligncenter" width="224"]Pilhan saya. Hehe. (doc. pribadi) Pilhan saya. Hehe. (doc. pribadi)[/caption]

Paling tidak, kenyataan inilah yang saya masih dapatkan di negeri saya, Indonesia. Suasana yang terbangun antara mahasiswa dan sang dosen baik di dalam dan di luar kelas adalah sesuatu yang sangat kaku. Jarang ada mahasiswa yang berani memunculkan rasa rileksnya di dalam kelas. Pokoknya, di dalam kelas, mata harus terus tertuju ke depan mengikuti segala alur penjelasan sang pengajar. Lengah sedikit, pasti akan kena marah, bahkan mungkin diusir keluar.


Di sini, jangankan terlambat, tidur di dalam kelas saat sang dosen mengajar di depan bukanlah hal yang tabu. Biasaaaa…! Sang pengajar pun tidak mau melarang mahasiswa agar tidak tidur. Alhasil, dalam beberapa perkuliahan, mahasiswa yang tidur saat pelajaran berlangsung bisa melakoni aksinya itu dengan tenang.


Apa? Makan di dalam kelas saat kuliah berlangsung? Amboi…ente lagi nyari masalah ya? Hehe. Kira-kira begitulah kondisinya. Aktivitas “makan-memakan” di dalam kelas adalah sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan. Tidak menghargai dosen katanya.


Tentu saja, larangan itu tidak berlaku di sini. Mahasiswa makan di saat dosen sedang berbusa-busa menyampaikan materi adalah hal yang halal dilakukan. Ente mau makan trus setelah itu tidur, pun bukan masalah.


Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan kebijakan ini. Adalah kewajiban kita untuk saling menghargai peran masing-masing. Mahasiswa menghargai dosen, dosen menghargai mahasiswa. Simbiosis mutualisme perlu dibangun di sini.


Namun, saya juga tidak sepakat dengan adanya hubungan yang kaku antara dosen dan mahasiswa. Hubungan menyeramkan yang dibangun ini justru bisa berakibat tidak baik terhadap proses pembelajaran. Sebaliknya, rileks dalam menerima materi menjadi salah satu prasyarat agar proses belajar-mengajar menjadi sesuatu yang menyenangkan.


Salam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19