Miras Oplosan: Pembunuh kok Dicari?

Lagi, nyawa melayang akibat minuman keras (miras) oplosan. Berulang kali terjadi, tetapi sepertinya pesona miras oplosan tidak pudar, utamanya di mata para remaja pencari identitas diri. Terbaru, belasan orang meregang nyawa setelah menenggak miras yang diracik dengan tambahan bahan-bahan misterius tersebut. 

Di bagian awal tulisan ini, saya lampirkan terlebih dahulu screenshoot berita dari Detik.com yang memberitakan tentang komposisi miras oplosan maut itu. Dalam berita tersebut, peracik miras oplosan tersebut mengaku mengoplos alkohol 96% dengan zat-zat tambahan seperti minuman berenergi, coca, dan ginseng. Tulisan ini akan mengkaji mekanisme miras oplosan berdasarkan komposisinya sehingga dapat memunculkan efek fatal bagi yang mengonsumsinya.

***

Sebelum beranjak lebih jauh, kita perlu mengetahui dan membedakan obat-obat yang disebut sebagai stimulant dan depresan. Secara umum, terdapat perbedaan jelas antara ke-2 jenis obat ini. Stimulan merujuk pada obat-obatan yang dapat meningkatkan kinerja sistem tubuh, meningkatkan produksi energi, meningkatkan kinerja jantung, meningkatkan laju pernafasan, menekan rasa lapar, dan mengurangi rasa lelah. Sebaliknya, obat yang termasuk kategori depresan berefek sebaliknya. Obat depresan bekerja menurunkan aktivitas sistem tubuh, menurunkan produksi energi, menurunkan denyut jantung, menurunkan laju pernafasan, mengantuk, dan memunculkan rasa lelah.

Terkait hal tersebut, salah satu depresan yang sering dikonsumsi oleh banyak orang adalah alkohol. Sebaliknya, salah satu stimulant yang sering digunakan adalah kafein. Itulah mengapa, penggunaan alcohol dapat menimbulkan efek-efek seperti ketidakseimbangan bergerak, oleng, mengantuk, dan lain-lain. Efek-efek ini adalah contoh efek depresi susunan saraf pusat akibat penggunaan depresan. Hal ini menjelaskan pula mengapa konsumsi kafein dikaitkan dengan aktivitas yang membutuhkan energy tinggi, misalnya begadang, bekerja, beraktivitas keras, dan lain-lain.

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa penggunaan stimulan maupun depresan secara berlebihan tentu saja merupakan hal yang berbahaya. Penggunaan berlebihan tersebut dapat diperoleh saat kita menggunakan dosis besar atau penggunaan dalam jangka waktu yang lama. Sebagai contoh, jika alcohol dikonsumsi secara berlebihan, serial effects akan terjadi, mulai dari tersedasi - hipnotis - terbius - koma - mati. Konsumsi kafein berlebihan pun akan berujung pada hal yang sama yaitu kematian, walaupun "jalan" ke arah tersebut berbeda.

Jika efek stimulan dan depresan berbahaya saat digunakan berlebihan, maka pertanyaannya bagaimana jika stimulan dan depresan dikonsumsi secara bersamaan? Pada kasus keracunan miras oplosan di atas, minuman berenergi, coca, dan ginseng mengandung senyawa yang memiliki efek stimulant yang tercampur ke dalam alcohol yang justru merupakan depresan.

***

Secara umum, tubuh kita memiliki system yang luar biasa saat menghadapi "serangan" dari luar. Jika "serangan" tersebut memicu efek A, maka tubuh akan segera mengaktifkan -A (minus A). Contoh lain secara molekuler, jika tubuh merasa terjadi penurunan tekanan darah yang ditandai dengan turunnya suplai darah ke ginjal, maka tubuh akan segera mengaktifkan system tertentu dalam tubuh yang berperan meningkatkan tekanan darah. Begitu juga sebaliknya. Gangguan tubuh dapat terjadi jika system kesetimbangan ini mengalami masalah.

Nah, jika tubuh menghadapi "serangan" depresan, maka tubuh sebenarnya akan berupaya melawan "serangan" ini dengan memunculkan efek-efek stimulant. Sebaliknya, jika "serangan" yang muncul adalah stimulant, maka tubuh akan mengaktifkan efek-efek depresan.

Yang menjadi masalah adalah jika "serangan" yang muncul adalah stimulant dan depresan sekaligus. Tubuh akan "bingung" mana yang harus diaktifkan. Jika mengaktifkan efek depresi, maka justru akan semakin memperburuk efek "serangan" depresan. Sebaliknya, jika ingin mengaktifkan efek stimulasi, maka justru akan memperburuk efek stimulant yang juga dikonsumsi.

Kondisi di atas akan menyebabkan kekacauan fisiologis tubuh. Kekacauan ini akan memicu efek-efek keracunan yang parah. Sesak nafas, nyeri perut, muntah, gangguan irama jantung, dan gangguan koordinasi. Jika efek ini semakin parah, maka peluang kejadian koma dan kematian pun akan semakin membesar.

***

Kesimpulannya, jangankan miras oplosan, miras tanpa dioplos pun sudah berbahaya.

Salam oplosan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Garam Beryodium? Mengapa Bukan Gula Beryodium atau Terigu Beryodium?

Haha, Hihi, Huhu, Hehe, Hoho

Antiulkus sebagai Abortifacient?