Carisoprodol itu Bukan Cendol

Beberapa waktu yang lalu, PCC naik daun. Obat dengan kombinasi 3 zat aktif ini menghebohkan seisi Nusantara. Lima puluhan remaja di Kendari terkapar tak berdaya di ranjang rumah sakit. Dua orang meragang nyawa akibat PCC. Beragam isu pun mengiringi kejadian ini.

Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang isu-isu yang muncul seiring dengan booming-nya berita tentang PCC. Tulisan ini hanya akan fokus menjawab pertanyaan "Mengapa PCC menakutkan? Mengapa PCC bisa membunuh?"

PCC adalah kepanjangan dari Paracetamol, Caffeine dan Carisoprodol. Dulu, ke-3 kombinasi zat aktif ini dengan mudah ditemui di beberapa obat yang beredar di pasaran, misalnya Somadril dan Carnophen. Namun, sejak tahun 2013, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) resmi menarik obat yang mengandung carisoprodol. Tindakan ini dilakukan setelah melakukan evaluasi dan menyimpulkan bahwa carisoprodol ternyata sering disalahgunakan oleh masyarakat. Terbaru, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2018 telah memasukkan karisoprodol ke dalam narkotika golongan I. Penyalahgunaan obat ini akan berujung pada sanksi berat.

Kenapa karisoprodol sering disalahgunakan? Tulisan ini mencoba untuk menguraikan efek karisoprodol, sehingga berujung pada penyalahgunaan, bahkan sampai menimbulkan efek mematikan.

Karisoprodol adalah obat yang awalnya digunakan sebagai relaksan otot yang bekerja di susunan saraf pusat. Untuk efek inilah, maka karisoprodol sering digunakan oleh para pekerja seks komersial untuk melayani pria hidung belang. Mereka menggunakan karisoprodol dengan tujuan agar mereka tetap "relaks" walaupun telah melayani beberapa pria hidung belang.

Efek karisoprodol sebagai relaksan otot ini muncul mengingat kemampuannya sebagai depresan. Sebagai depresan, karisoprodol memicu efek sedasi, gangguan pergerakan, mengantuk, dan pada dosis besar, dapat menyebabkan penekanan terhadap pernafasan.

Secara umum, senyawa depresan memiliki efek-efek yang sangat bergantung pada dosis yang digunakan. Pada dosis kecil, efek penghambatan aktivitas susunan saraf pusat masih sebatas sedasi atau mengantuk. Namun, jika dosisnya ditingkatkan, efeknya perlahan lebih dalam, misalnya menjadi tidur. Oleh karena itulah, maka sebagian besar obat untuk insomnia (kondisi dimana seseorang tidak bisa tidur secara normal) merupakan senyawa depresan.

Jika dosis senyawa depresan, misalnya karisoprodol ini ditingkatkan lagi, maka akan terjadi efek pembiusan. Pada akhirnya, jika dosis terus ditingkatkan, maka efek depresi pernafasan (pernafasan akan sesak dan menjadi pelan) akan terjadi. Jika ini tidak ditangani, maka efek koma, bahkan kematian dapat terjadi.

Penjelasan inilah yang menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa karisoprodol dapat membunuh penggunanya. Kasus yang terjadi di Kendari, pasti terjadi saat korban mengonsumsi karisoprodol dalam jumlah dan dosis besar. Semakin besar dosis, peluang kejadian kematian pun akan membesar.
Lebih jauh, efek mematikan karisoprodol akan cepat terjadi jika dalam penggunaannya, karisoprodol dikombinasi dengan senyawa yang bersifat depresan lainnya, misalnya alcohol.

Semua efek-efek ini muncul akibat peningkatan kinerja neurotransmitter (senyawa kimia yang berperan meneruskan impuls) yang bernama GABA (Gamma Amino Butyric Acid). Senyawa neurotransmitter inilah yang secara umum bertanggung jawab terhadap efek-efek penghambatan fungsi-fungsi tubuh seperti dipaparkan di atas. Hal ini berarti bahwa kadar atau konsentrasi GABA yang besar akan memicu efek depresi yang membesar pula. Sebaliknya, jika kadar GABA sedikit, maka efek depresi susunan saraf pusat pun akan menurun. Berdasarkan hal inilah, maka sebagian besar obat depresan, termasuk karisoprodol, bekerja meningkatkan kadar GABA di susunan saraf pusat.

Demikian.

Salam PCC.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19