Jika Saya Tak Sakit, Maka Saya Tidak Akan Ke USA

Sekilas, judul di atas begitu provokatif. Yah...jika saya tak sakit, maka saya tidak akan ke USA. Bagaimana caranya? Kan seharusnya agar bisa berangkat, kita harus sehat? Nah, inilah yang akan saya ceritakan dalam tulisan saya kali ini. Semoga ada pelajaran yang dapat diambil.

Saat itu sekitar hari Senin, tanggal 26 September 2011, saya akhirnya harus terkapar setelah dihajar oleh virus morbili. Kurang lebih selama 4 hari (sampai hari Kamis), saya memutuskan untuk merawat diri sendiri. Soalnya belum ada istri. Hehehe. Apalagi tinggal kos-kosan. Jadi, memang harus mandiri. Selama 4 hari terbaring lemas di kos-kosan, saya merasa penyakit saya semakin parah. Muntah, demam, dan sariawan di seluruh mulut. Kondisi ini menyebabkan saya tidak bisa makan. Akhirnya, saya memutuskan untuk masuk rumah sakit.

Tepat pada hari Jumat (30 September 2011), saya akhirnya harus masuk rumah sakit. RS yang saya pilih waktu itu RS Awal Bros. Dengan bantuan junior, saya pun dibawa menggunakan mobil junior tersebut. Setelah diurus administrasinya, akhirnya dokter memutuskan agar saya rawat inap. Saya pasrah saja. 

Namun, di balik kepasrahan saya, saya menyimpan keinginan untuk pulang besok harinya, tepatnya pada hari Sabtu (1 Oktober 2011). Mengapa saya berkeinginan seperti itu? Karena ternyata pada tanggal 1 Oktober 2011, sebagai CPNS 80%, saya harus mengikuti kegiatan Prajabatan di salah satu gedung di Makassar agar segera mendapatkan status 100% sebagai PNS. Dan kegiatan ini wajib diikuti. Kegiatan ini sendiri berlangsung selama 3 minggu Jika tidak ikut, maka status CPNS saya masih terus 80% dan saya harus menunggu kegiatan prajabatan baru di tahun depannya. Padahal, pada bulan Desember 2011, status saya sebagai CPNS sudah memasuki 2 tahun dan itu berarti akan begitu sukar untuk mengikuti prajabatan di tahun depan. Berbeda jika status CPNS saya belum 2 tahun. Itu akan lebih mudah. Intinya, jika saya tidak ikut prajabatan di tanggal 1 itu, maka saya harus menunggu prajabatan di tahun depan dalam ketidakpastian. Hehe.

Pada hari Sabtu, ternyata kondisi saya semakin parah. Dokter mendiagnosis saya mengalami campak/morbili, atau yang sering kita kenal dengan nama 'sarampa'. Demam saya makin tinggi. Alhasil, keinginan saya untuk ikut prajabatan hari itu tidak kesampaian. Saya masih terbaring lemah. Muntah, demam, badan penuh dengan benjolan, makan pun tidak enak karena sariawan hampir di setiap sisi mulut.

Ah, sudahlah. Saya pasrah saja. Pasti ada hikmah di balik kejadian ini. 

Alhamdulillah...setelah dirawat selama kurang lebih 5 hari, saya akhirnya diperbolehkan pulang pada hari Rabu (5 Oktober 2011). Setelah diizinkan pulang, saya pun menghadap ke panitia prajabatan agar bisa diizinkan ikut prajabatan. Namun, saya ditolak saudara-saudara. Hehehe.

Tidak apa-apa. Pasti ada hikmahnya. Saya meyakini hal itu.

Ternyata, hikmah itu langsung saya dapatkan. Pada hari Senin (10 Oktober 2011), saat teman-teman saya masih mengikuti prajabatan, saya mendapatkan info lewat website Kemendikbud bahwa saya dinyatakan lolos seleksi wawancara beasiswa Fulbright-Dikti (beasiswa ke USA). Spontan..saya langsung sujud syukur atas hal itu. Bagi saya, ini adalah hikmah kenapa saya harus sakit dan tidak ikut prajabatan. Mengapa? Ternyata, setelah saya dinyatakan lulus seleksi wawancara, saya diwajibkan untuk menyiapkan segala macam berkas/ dokumen. Di antaranya esai, personal statement, dan lain-lain. Jika dihitung, maka saya harus membuat sekitar 15 halaman berbahasa Inggris. Tentunya, untuk melengkapi berkas ini, saya harus fokus. Di sinilah letak hikmahnya. Jika saja, saya ikut prajabatan saat itu, maka saya tidak akan bisa melengkapi berkas-berkas beasiswa tersebut karena di prajabatan, kegiatannya padat dari jam 5 pagi sampai jam 11 malam. Setelah itu istirahat karena capek. Jadi, saya tidak punya waktu untuk membuat esai tersebut.

Hmm....di sinilah letak kesyukuran saya atas sakit yang saya derita. Berhubung saya tidak ikut prajabatan, maka saya punya banyak waktu untuk melengkapi berkas tersebut. Dan Alhamdulillah memang saya bisa melengkapinya dan sekarang saya sedang berada di USA.

Apa makna dari kejadian yang saya alami ini?

Yakinlah bahwa di dalam setiap kejadian, pasti ada hikmah yang terkandung. Hikmah itu pasti lebih baik. ALLAH tidak akan membuat hamba-Nya menjadi buruk. ALLAH tahu apa yang kita mau. Hanya saja, kadang manusia suka terburu-buru untuk menghakimi bahwa ALLAH tidak adil.

Jika satu pintu telah tertutup, maka yakinlah bahwa ALLAH telah membukan pintu lain yang lebih indah untuk kita.

Semoga bermanfaat. Insyaa ALLAH saya akan sambung lagi di lain waktu...!

Wassalamu'alaykum Wr. Wb.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19