Maaf, Sebaiknya Cari Saja Profesor Lain

Pengalaman ini saya alami saat semester pertama berada di Universitas Toledo, salah satu universitas negeri di state Ohio, USA.

Saat itu, saya memprogramkan 12 SKS dimana salah satu mata kuliah (MK) yang saya ambil bernama Seminar in Pharmacology. Dalam MK ini, setiap profesor akan mempresentasikan tentang laboratoriumnya kepada kami (5 orang mahasiswa baru program magister). Total ada sekitar 7 orang profesor yang setiap minggu bergantian masuk ke kelas kami untuk memberikan gambaran tentang seluk-beluk proyek penelitian yang mereka kerjakan. Diharapkan setelah MK ini selesai, kami berlima dapat segera menentukan pilihan dimana interest untuk penelitian kita nantinya.

Setelah mendapatkan gambaran jelas dari seluruh profesor, maka kami harus segera menentukan sendiri kira-kira di laboratorium mana akan bergabung. Jika sudah mendapatkan keputusan, maka kami harus segera menemui profesor yang bersangkutan untuk menyampaikan minat kita tersebut.
Saya termasuk salah satu mahasiswa yang cukup lama menimbang-nimbang di laboratorium mana saya harus bergabung. Sementara, ke-4 teman lainnya sudah terlebih dahulu menghubungi profesor dimana mereka ingin bekerja.

Akhirnya, setelah mempertimbangkan berbagai macam hal, saya memilih laboratorium Toksikologi untuk melakukan penelitian saya untuk tesis saya nantinya. Saya pun menghubungi profesor saya yang berasal dari Irak. Dan Alhamdulillah…beliau menerima saya untuk bergabung di labnya dengan senang hati. I am also very excited to work with you. Itu adalah kata-katanya yang selalu saya ingat. Saya begitu senang dengan respon beliau untuk menerima saya.

Namun, ada satu hal yang mungkin saya sendiri akan sulit meneladani sikapnya.

Sebelum saya menghadap sang profesor, sebenarnya ada salah seorang teman saya yang sudah terlebih dahulu menghadap ke profesor tersebut untuk mengutarakan niatnya bergabung dengan labnya. Namun, keinginan teman saya ini ditolak oleh sang profesor dan justru disuruh mencari profesor lain. Alasannya? Saya sendiri sempat shock mendengar alasan penolakannya tersebut. Ternyata teman saya itu ditolak hanya karena berasal dari negara yang sama dengan si profesor. Teman saya ini ternyata juga berasal dari Irak.

Pada saat saya tanyakan mengapa Anda menolak teman saya tersebut padahal kalian berasal dari negara yang sama? Beliau mengatakan, “Saya ingin menghindari adanya conflict of interest dalam mengeluarkan kebijakan nanti sebagai seorang profesor”

Sungguh saya kaget dengan jawabannya. Mengapa? Karena bagi saya, apa yang dilakukan profesor ini keluar dari pakem yang biasanya saya temui sepanjang 26 tahun saya berada di dunia ini. Saya membayangkan bahwa jika saya adalah profesor itu, maka saya kemungkinan besar akan melakukan kebijakan yang bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh profesor saya ini. Saya akan lebih mendahulukan teman saya yang berasal dari negeri yang sama, yang berasal dari suku yang sama, yang berasal dari marga yang sama, atau yang berasal dari alumni yang sama tanpa pernah peduli imbas dari kebijakan itu. Namun, sang profesor ternyata lebih memilih untuk menjaga profesionalitasnya dengan menghindari sekecil apapun conflict of interest yang mungkin muncul. 

Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19