Kapal Laut

Nggak tahu kenapa pengalaman indah itu kembali menggelayut dalam benak saya. Apaan tuh? Oo..mungkin karena Gunung Sinabung yang sedang meletus. Lho..kok bisa?


Saya kembali teringat saat melakukan perjalanan dengan menggunakan kapal laut yang bertingkat itu. Namanya KM. Sinabung. Kapal ini tentu saja diberi nama berdasarkan nama gunung yang sedang "marah" itu, sama seperti nama kapal-kapal Pelni lainnya. Kapal ini termasuk kapal yang melayani pelayaran ke bagian timur Indonesia. Jika saya nggak salah ingat, kapal ini memiliki 7 lantai dengan kapasitas ribuan penumpang. Cukup besar memang.




[caption id="attachment_59" align="aligncenter" width="400"]KM. Sinabung yang merupakan salah satu kapal Pelni (http://milleniumtransportation.blogspot.com/2011/06/pelni-sinabung-ship-route.html) KM. Sinabung yang merupakan salah satu kapal Pelni (http://milleniumtransportation.blogspot.com/2011/06/pelni-sinabung-ship-route.html)[/caption]

Saat itu memasuki minggu-minggu terakhir Ramadhan. Seperti biasanya, aktivitas mudik pun terjadi, tidak terkecuali di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar. Ribuan pemudik mulai bersiap-siap memasuki kapal sambil berdesak-desakan. Saya dan adik serta sepupu saya pun tidak ketinggalan adu cepat dengan penumpang lain demi mendapatkan tempat yang nyaman di kapal tersebut. Maklum penumpang kelas ekonomi. Hehe. Perjalanan kami akan ditempuh dalam waktu kurang lebih 24 jam-an. Titik start kami dari pelabuhan Makassar dan kami akan turun di pelabuhan Banggai. Dari pelabuhan Banggai, kami harus menaiki kapal lagi selama kurang lebih 6 jam-an untuk mencapai kota Luwuk.


Walaupun perjalanannya terhitung cukup lama, tetapi sejatinya, perjalanan itu sungguh sangat mengasyikkan. Tidak seperti melakukan perjalanan dengan moda transportasi darat, seperti bus, kapal laut adalah salah satu alternatif bagi siapapun yang tidak ingin tersiksa oleh jauhnya perjalanan yang ditempuh. Namun, jangan salah! Untuk menghindari kebosanan dari para penumpang, maka kapal laut seperti yang saya naiki telah mengantisipasinya. Di dalam kapal ini tersedia bioskop bagi yang ingin menikmati tontonan film, tersedia pula cafe bagi yang ingin minum-minum kopi, dan ada juga arena bermain. Itu semua disediakan untuk menetralkan kebosanan para pengguna moda.


Kebetulan pada saat itu, rembulan masih bersinar lumayan terang. Alhasil, sisi romantis diri inipun muncul. Hehe. Saya beranjak dari tempat tidur sederhana yang memang dipersiapkan bagi para penumpang kelas ekonomi ke arah dek paling atas. Setelah menaiki beberapa anak tangga, sampailah saya di bagian teratas kapal megah ini. Di lantai paling atas ini, tersedia sebuah toko kecil yang menjual beberapa makanan, mulai dari snack sampai makanan berat seperti mie dan nasi. Masalah harga, jangan tanya…pastilah mahal…! Soalnya di tengah laut, kita nggak bakal mungkin milih-milih atau pergi ke toko lain di seberang jalan. Hehe.


Sesampai di atas, alamak…indah sekali..!


Kapalnya berjalan tenang di atas laut yang sedang diam. Ombak kecil tidak menyurutkan nakhoda untuk terus memacu kapal ini agar tepat dan selamat sampai di tujuan. Saya langsung mencari tempat duduk untuk menikmati sinaran rembulan. Ah…seperti di novel-novel saja! Aduhai, ternyata alunan musik pun terdengar sayu dan menelisik masuk ke dalam rongga dada. Ah…indah sekali! Sepertinya ada satu yang kurang. Yah...istri dan anak. Maklum masih single. :)


Inilah yang menjadi keindahan jika kita ingin melakukan perjalanan. Transportasi laut adalah salah satu alternatif untuk bisa sampai di tujuan. Jika kita ingin menikmati keagungan ciptaan Allah selama melakukan perjalanan, maka kapal laut yang kekar itulah pilihannya. Konsekuensinya, kita bisa menghabiskan waktu berhari-hari di atas geladak yang justru bisa dicapai dalam hitungan jam dengan transportasi udara.


Jika memang anda ingin lekas sampai di tempat yang dituju, maka tentu saja, jangan naik kapal laut, tetapi pilihlah pesawat terbang. Tentu saja, kita tidak seleluasa bergerak ataupun berlari jika berada di dalam pesawat.


Sebenarnya, hidup ini seperti merancang alur yang akan dituju dan cara untuk menuju destinasi kita. Kita harus tahu kapan menggunakan “kapal laut”, “mobil”, atau “pesawat terbang”. Tidak selamanya dalam melakukan perjalanan, pesawat terbang akan begitu mengasyikkan. Mungkin saat tertentu, mengendarai mobil bersama keluarga adalah pilihan terbaik. Atau di suatu saat, menaiki kapal laut di saat bulan purnama adalah pilihan terbaik. Mengapa? Sederhana, karena kita ingin bahagia.


Salam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19