Maka, Berdo'alah...!

Sebelum saya mendapatkan kepastian tentang universitas yang akan menerima saya di Amerika Serikat (AS), salah satu do’a yang terus-menerus saya lantunkan adalah “Ya Allah, mudahkanlah segala urusan dan tugas-tugas hamba di Unhas dan lapangkanlah jalan hamba agar dapat bersekolah di AS dengan baik dan tepat waktu”. Penggalan do’a inilah yang selalu saya ucapkan dalam banyak kesempatan, utamanya seusai melaksanakan shalat.




[caption id="attachment_62" align="aligncenter" width="252"]Berdo'a itu adalah kebutuhan kita (www.keajaibansedekah.org) Berdo'a itu adalah kebutuhan kita (www.keajaibansedekah.org)[/caption]

Do’a di atas adalah harapan saya agar dimudahkan di Unhas, yang merupakan tempat kerja saya, dan dilapangkan jalan agar bisa melanjutkan kuliah di AS dengan BAIK dan TEPAT WAKTU.


Kenapa harus BAIK?


Karena saya tahu pasti bahwa AS bukanlah negara muslim. Itu berarti, saya harus pandai-pandai menjaga diri dari berbagai macam hal yang dilarang dan pada saat yang sama harus pula berupaya agar bisa melaksanakan perintah-perintah Allah, semisal shalat.


Atas dasar inilah, maka saat itu saya berharap agar tempat kuliah saya adalah universitas yang bisa menghargai keberadaan seorang muslim, terutama pada saat harus mengerjakan kewajibannya. Minimally, saya berharap agar tidak ada aksi-aksi diskriminasi atau rasial yang dilakukan oleh warga AS seperti yang sering saya saksikan di televisi.


Kenapa harus TEPAT WAKTU?


Ini jelas karena keberangkatan saya ke AS bukan disokong oleh dana pribadi, tetapi melalui skema beasiswa. Jika seperti itu, maka pasti akan ada Term of Appointment yang harus dipatuhi oleh para penerima beasiswa itu. Terkait dengan hal itulah, maka keberadaan saya di AS telah ditentukan selama kurang lebih 2 tahun. Jika lewat dari batas waktu, maka beasiswa saya tidak akan melanjutkan sokongan dananya. Ini yang mendasari saya mengucapkan lafadz do’a seperti di atas.


Alhamdulillah...! Setelah sampai di AS, do’a-do’a saya diijabahi Allah. Mungkin ada yang mengatakan bahwa terlalu prematur untuk mengatakan hal itu. Namun, bukankah kita harus berpikir positif kepada Allah? Paling tidak, dalam rentang setahun terhitung sejak kedatangan saya pertama kali di negeri ini, harapan-harapan saya sebagian besar terkabul.


Sebagai contoh, dulu saya berharap agar saya bisa melaksanakan kewajiban shalat lima waktu dengan baik. Nyatanya, universitas tempat saya belajar sekarang telah menyediakan ruangan khusus bagi seorang muslim yang ingin shalat. Walaupun kapasitasnya tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk menampung sekitar 20-30 orang, misalnya jika ingin melaksanakan shalat Jum’at di kampus. Bukan hanya itu, ruangan untuk shalat ternyata akan dipindahkan ke sebuah ruangan yang lebih besar. Itu artinya, jama’ah pun bisa semakin banyak. Alhamdulillah.


Selama persis setahun, saya sama sekali belum pernah menerima perlakuan diskriminatif dari warga di sini. Yang ada justru mereka begitu respect dan menghargai segala perbedaan yang ada. Selanjutnya tentang masalah makanan. Di sini banyak toko yang menjual makanan halal yang sebagian besar dimiliki oleh muslim. Bukankah ini merupakan sebuah kesyukuran?


Tentang hal TEPAT WAKTU, maka saya begitu bahagia jika menceritakan hal ini. Apa pasal? Advisor saya adalah seorang muslimah. Beliau berasal dari Irak, tetapi sudah lama berdomisili di AS. Beliau merupakan profesor di bidang toksikologi. Orangnya sangat baik dan ramah. Tidak pernah terlihat marah jika saya seringkali bertanya tentang sesuatu yang belum saya pahami. Karena beliau adalah muslimah, maka beliau sudah tahu jam-jam dimana saya menghilang dari lab karena shalat. Inilah yang membuat saya bahagia.


Tidak sampai di situ, di saat mahasiswa lain masih sibuk dengan penelitiannya, Alhamdulillah saya sudah mulai menulis tesis. Bukankah itu sebuah kebahagiaan? Insyaa Allah semuanya bisa berjalan dengan lancar, sehingga saya bisa selesai TEPAT WAKTU. J


Intinya, teruslah meminta dan berdo’a kepada Allah SWT. Dia-lah yang mengatur semuanya. Mintalah...! Insyaa Allah akan diijabahi. Jikapun tidak, maka yakinlah bahwa ada skenario lain yang tentu saja lebih indah.


Salam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19