7 Faktor Penentu Kemenangan Aher-Demiz

Hasil quick count terhadap pilkada Jawa Barat yang dilakukan oleh Indobarometer (melalui website Metro TV) menunjukkan bahwa Aher-Demiz memenangkan pertarungan. Dengan persentase perolehan suara sekitar 32.38%, pasangan ini mengungguli pasangan lainnya. Di posisi ke-2 ada pasangan Rieke-Teten yang memperoleh suara 27.18%. Adapun pasangan dari Partai Demokrat, Dede-Lex hanya berada di peringkat ke-3 dengan persentase pemilih yang memilihnya sebesar 26.09%. Berikutnya ada pasangan Yance-Tatang dengan 12.32% suara. Dan di urutan paling buncit ada pasangan nomor urut 1, Dikdik-Cecep, dengan perolehan suara 2.03%.

Sebelum pilkada berlangsung, publik banyak memfokuskan pada 2 pasangan yakni Aher-Demiz dan Dede-Lex. Pasalnya, ke-2 pasangan inilah yang disebut-sebut dalam berbagai survei akan saling menjegal. Belum lagi pencalonan ke-2 pasangan ini sangat dipengaruhi oleh dinamika politik di tingkat nasional. Saat penangkapan LHI beberapa waktu lalu, banyak pihak yang memprediksi  bahwa kans Aher untuk melanjutkan kepemimpinannya di Jabar semakin kecil. Namun, Aher-Demiz dan pendukungnya tetap optimis. Untuk pasangan Dede-Lex justru lebih parah. Penetapan ketum PD, Anas Urbaningrum, hanya 2 hari sebelum pilkada dilangsungkan. Sebelum itu, PD memang sudah babak belur dihajar isu korupsi.

Lantas, apa yang menjadikan Aher-Demiz menang di pilkada kali ini?
  1. Rakyat Indonesia yang berkarakter pelupa. LHI memang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan sudah ditahan. Namun, jika dibandingkan dengan Anas, maka kasus LHI seakan-akan sudah dilupakan. Yang masih panas adalah Anas. Rakyat Jabar mungkin masih sangat ingat bahwa 2 hari lalu, ketum PD yang notabene adalah partai pendukung Dede-Lex ditetapkan sebagai tersangka. Ibarat baru keluar dari oven, maka kasus ini masih sangat hot untuk digelindingkan di publik.

  2. Selain itu, isu korupsi PD bukan hanya untuk Anas. Jauh sebelum Anas, PD sudah jeblok karena isu rasuah ini. Nazaruddin, Hartati, Angie, dan Andi Mallarangeng menjadi pemicu elektabilitas PD yang semakin anjlok. Belum lagi tingkah laku para kader lainnya seperti Sutan Batoegana dan Ruhut Sitompul yang sering memerahkan telinga rakyat. Ditambah lagi dengan kasus presensi Ibas yang semakin dimainkan media. Praktis rakyat bisa mengambil kesimpulan untuk itu. Sedangkan PKS, sampai saat ini, baru LHI lah yang ‘mencoreng’ citra PKS. Okelah…! Dulu ada kasus video porno Arifinto, tetapi itu sudah lama. Sekali lagi rakyat kita cenderung pelupa. Kasus Misbakhun pun sudah dilupakan oleh publik. Apalagi Misbakhun sudah divonis bebas pasca upaya hukum lanjutan yang dilakukannya. Kader-kadernya pun tidak ada yang bertipe seperti Ruhut. Melalui perbandingan ini, Aher-Demiz, yang diusung PKS, masih dianggap rakyat Jabar yang terbaik.

  3. Kemenangan Aher-Demiz ini seakan menunjukkan bahwa kesolidan partai dan kader PKS masih sangat kuat. Kasus LHI tidak serta-merta menghancurkan kesatuan di dalam internal partai. Kader-kader terus bekerja. Roda partai terus digerakkan. Alhasil, pasangan nomor 4 pun merengkuh menang. Berbeda dengan PD. Sejak Anas ditetapkan sebagai tersangka 2 hari lalu, justru beberapa pengurus DPP, DPD, dan DPC PD sudah bersiap mengundurkan diri. Kondisi ini paling tidak akan segera mempengaruhi konstelasi kesolidan Demokrat di ajang pilkada Jabar.

  4. Rakyat Jabar sudah melihat kinerja dari Aher. Memang Dede ikut mendampinginya dalam masa kepemimpinan pertama. Namun, rakyat lebih ingat siapa gubernurnya. Gubernurpun dengan mudah mengklaim bahwa kinerja di periode pertama adalah sumbangsihnya. Secara umum, itulah keuntungan jika incumbent maju kembali dalam pilkada. Hal yang sama terjadi pada pilpres 2009 dimana SBY menang atas JK. Saat itu, SBY mengklaim beberapa usahanya yang nyata-nyata merupakan kinerja dari JK. Tetapi, yah…itulah yang saya katakan tadi. Incumbent memang punya keuntungan dalam hal klaim-mengklaim seperti itu karena biar bagaimanapun, SBY lah pemimpinnya.

  5. Faktor Deddy Mizwar menjadi penentu selanjutnya. Sosok Demiz memang tidak bisa dinafikan begitu saja dalam menentukan kemenangan Aher. Rakyat melihat bahwa artis yang satu ini bisa dikategorikan sebagai artis yang lurus, tidak suka berbuat ulah, senior dan bijaksana. Kenapa? Karena jauh sebelum pilkada ini dilangsungkan, sosok Demiz sudah membintangi ratusan film dan yang paling fenomenal adalah perannya di Ketika Cinta Bertasbih. Di situ, Demiz adalah seorang kiyai yang sangat berwibawa dan lurus hidupnya. Rakyat pun suka. Buktinya film itu merupakan film dengan penonton terbanyak sebelum dibuntuti oleh Habibie Ainun. Belum lagi film Para Pencari Tuhan yang tayang setiap Ramadhan. Demiz tetap menjadi tokoh protagonis. Dan rakyat pun kembali suka. Sedangkan Dede, rakyat hanya ingat Jendela Rumah Kita. Rieke? Rakyat pun memanggilnya Oneng karena perannya di Bajaj Bajuri. Kenapa? Karena aksinya di film itulah yang lebih diingat publik. Belum lagi perannya di film itu yang terlihat agak “telmi”.

  6. Masih terkait dengan faktor keartisan Demiz. Beberapa waktu lalu, beberapa artis Jabar menyatakan dukungannya kepada Demiz. Nah, setiap artis itu pasti memiliki penggemar. Logika sederhananya, semakin banyak artis yang digaet, maka semakin banyak pula penggemar yang mendukung kita. Hasilnya, perolehan suara pun terdongkrak. Beberapa artis itu di antaranya Dicky chandra, Sys NS, Harry Capri, Cici Tegal, Hengky Tornado, Lenny Marlina, dan Chintami Atmanegara.

  7. Dukungan partai kaya baru (Hanura) menjadi salah satu poin penting lainnya. Dengan bergabungnya taipan media sekelas Harry Tanoesoedibjo (HT) ke Hanura, promosi pasangan inipun seolah mendapat angin segar, terutama di channel media yang bernaung di bawah payung MNC Group. Dengan kata lain, pindahnya HT ke Hanura seakan menjadi keuntungan tersendiri bagi pasangan ini.
Memang rakyat Indonesia masih cenderung melihat figur, bukan partai. Walaupun Aher menang, hal ini bukan berarti akan menghasilkan kurva positif linear dengan suara partai. Karenanya, menarik kita tunggu apakah hasil pilkada Jawa Barat ini akan berkorelasi positif dengan pemilu tahun depan? Faktanya adalah sekitar 20% warga Indonesia bermukim di Jawa Barat.

Salam pilkada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19