Detective Conan Tak Akan Berkutik di Negeri Ini

[caption id="attachment_126" align="aligncenter" width="259"]Edogawa Conan a.k.a Shinichi Kudo (www.kaskus.co.id) Edogawa Conan a.k.a Shinichi Kudo (www.kaskus.co.id)[/caption]

Saya termasuk penyuka serial Detective Conan. Tokoh imajinasi karya Aoyama Gosho ini sudah menjadi favorit saya sejak lama. Entah mengapa rasa suka itu muncul. Yang pasti, serial-serial detektif memang selalu sukses menyita perhatian saya.


Nama lengkap Conan adalah Edogawa Conan. Tubuhnya mengecil menjadi sepantar anak kelas 3 Sekolah Dasar karena dipaksa meminum ramuan pengecil tubuh oleh gerombolan Black Organization. Sebelum mengecil, Conan adalah seorang siswa SMA yang bernama Shinichi Kudo yang terkenal memiliki kemampuan analisa luar biasa untuk memecahkan banyak kasus.


Setiap menyaksikan serial ini di layar kaca, adrenalin saya selalu saja meninggi. Mungkin karena, sebagai penonton, dipaksa pula untuk berpikir atas kasus yang dihadapi sang Detektif. Mungkin juga karena menyaksikan aksi Conan membongkar kasus-kasus melalui petunjuk-petunjuk yang kadang dianggap sangat sepele. Justru dari petunjuk kecil itulah, Conan bisa meramu sebuah kesimpulan penerang tentang kasus yang sedang terjadi.


Yang sering menjadi masalah saya adalah setiap menyaksikan aksi seru yang dipertontonkan sang Detektif ini, hati kecil saya seringkali berteriak. Teriakan kalbu saya ini menjadi sangat mudah dipahami tatkala kita mencoba mengaitkan antara aksi imajinatif Conan dengan dunia nyata.


Yah…itulah yang saya rasakan. Secara sederhana, berulang kali saya berkata kepada diri saya sendiri, “Apakah tidak ada detektif semumpuni Conan?” Pertanyaan seperti ini terus saja menggelayut dalam benak saya. Apalagi setelah melihat banyaknya kasus-kasus yang berakhir secara antiklimaks. Banyak kejanggalan di sana-sini. Kasus-kasus itu akhirnya menghasilkan dosa-dosa sejarah karena kualitas pengungkapan yang sangat mengecewakan.


Kasus Antasari Azhar, misalnya, mantan ketua KPK, yang divonis 18 tahun penjara atas tuduhan pembunuhan yang dilakukannya terhadap Nasrudin Zulkarnaen, bos Putra Rajawali Banjaran. Sang korban dibunuh menggunakan senjata api pada tanggal 14 Maret 2009. Dari penyelidikan yang dilakukan, diduga bahwa Antasari Azhar-lah yang menjadi otak pembunuhan ini. Namun, kasus ini tidak berhenti sampai di sini. Berbagai upaya hukum dilakukan oleh pihak Antasari Azhar untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Kasus ini terus saja menyimpan misteri karena banyak kejanggalan yang terungkap dalam proses persidangan mantan ketua KPK ini.


Di titik inilah, saya membayangkan akan datangnya seorang detektif sekaliber Detective Conan yang datang dengan konklusi terbaiknya.


Ah…mungkin cuma ilusi saya saja.


Apa pasal?


Karena walaupun kesimpulan yang diberikan Conan, misalnya, sukar untuk dibantah, namun harus diakui bahwa yang menetapkan hukuman bukanlah sang Detektif. Artinya, masih ada celah untuk “mengotak-atik” konklusi ciamik Conan atas kasus yang dihadapinya.


Salam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19