UT Akan Bebas Rokok

Entah mengapa rokok itu sukar untuk diberantas. Tak mudah memang menghilangkan produk pembunuh yang satu ini. Walaupun menyimpan efek mematikan, tetapi rokok tetap jadi primadona. Katanya, dengan mengisap rokok, kreatifitas akan muncul, masalah bisa terlupakan, termasuk hutang-hutang serasa ikut terbayar.

Harus diakui bahwa rokok telah menyerang seluruh sendi-sendi kehidupan. Semua kalangan umur sukses dipreteli oleh produk tembakau ini. Tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, semuanya tak ada yang ketinggalan. Semuanya telah dicecoki uap nikotin.

Walaupun kampanye tentang bahaya merokok telah dilakukan secara intensif, namun semuanya tak berarti apa-apa bagi sang pecandu. Bagi mereka, urusan maut adalah urusan Tuhan. Rokok tidak menentukan hidup dan mati seseorang. Walhasil, tak ada yang mereka takutkan untuk terus menikmati produk ini.

Menyadari kampanye yang tidak efektif, berbagai produk perundangan pun dikeluarkan. Berbagai jenis pelarangan pun ditelurkan. Mulai dari pelarangan merokok di tempat umum, sampai aturan untuk menaikkan pajak cukai rokok. Tentu saja, aturan-aturan ini ditujukan untuk membuat sang perokok menjadi terbatas pergerakannya. Jika sudah begini, maka diharapkan agar perlahan dia mulai merasa “tak tenang” mengonsumsi barang yang satu ini.

Itu pula yang dilakukan oleh pihak University of Toledo. Usulan untuk membuat UT bebas asap rokok akhir-akhir ini mengemuka. Beberapa orang senat universitas sedang mengusulkan aturan pelarangan ini. Mereka berharap agar aturan ini bisa menjadi salah satu perangkat untuk mengurangi para perokok di UT. Hal ini sekaligus menyelamatkan para non-perokok dari paparan asap rokok yang terkepul di udara.

No tobacco on campus (doc. pribadi)

Langkah ini diambil pasti karena didorong oleh temuan-temuan tertentu. Para senator itu pasti telah memiliki data tentang pencemaran dan efek rokok dalam lingkup UT.

Namun, kalau mau jujur, saya pribadi melihat bahwa UT sebenarnya sudah cukup bersih dari asap-asap rokok. Para perokok harus mengisap “temannya” itu di smoking area. Jangan coba-coba merokok di tempat yang tidak diizinkan. Walaupun begitu, tetap saja ada keluhan dari pihak sivitas akademika kampus. Keluhan inilah yang kemudian ditampung oleh para senator untuk disampaikan salam rapat senat.

Alhasil, usulan untuk membuat UT benar-benar terbebas dari asap rokok sepertinya tidak akan lama lagi terealisasi. Bersiaplah menyambut hidup berkualitas baru tanpa asap rokok di UT. Selamat tinggal para pecandu.

Salam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19