Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT)

Jujur saja, saya agak ngeri-ngeri gimanaa gitu jika ngebahas tentang hal ini. Ngeri yang pertama karena topik ini tergolong topik sensitif untuk dibahas karena selalu saja bersinggungan dengan masalah prinsip hidup dan kepercayaan. Ngeri yang ke-2 karena topik ini selalu saja mengingatkan saya bagaimana kehancuran kaum Nabi Luth yang diakibatkan oleh tingkah mereka yang suka sesama jenis.


Di beberapa negara, terutama negara liberal, LGBT bukanlah merupakan isu yang panas. Karena mereka mnganut sistem liberal, maka setiap orang bebas melaksanakan apa yang mereka pahami dan yakini, sekalipun itu menabrak fitrah sebagai seorang manusia. Lain lagi di negara-negara yang masih memegang erat nilai-nilai agama dan budaya seperti Indonesia dan negara-negara di Timur Tengah. Di negara-negara ini, LGBT akan mendapatkan penentangan keras dari sebagian besar masyarakatnya. Bukan saja bertentangan  dengan nilai kultur yang telah dipegang selama ini, tetapi yang lebih penting lagi, LGBT adalah sesuatu yang jelas-jelas melanggar nilai-nilai agama.


Di tempat saya belajar saat ini, University of Toledo, Ohio, Amerika Serikat, isu LGBT merupakan isu yang "tidak terlalu panas" karena masyarakat dan mahasiswa di sini memang menganut paham berpikir bebas. Karena itu, jangan heran kalo di sebagian besar institusi pendidikan dapat dengan mudah brosur-brosur yang mempromosikan LGBT. Brosur-brosur ini dibuat dan dibagikan sebagai "panduan" bagaimana sikap kita menghadapi kenalan kita yang menderita LGBT. Intinya, tujuan dari media-media seperti ini adalah untuk "memaksakan" pikiran kita agar memandang orang-orang dengan LGBT adalah suatu kewajaran dan tidak perlu disikapi secara emosional.


Di bawah ini adalah salah satu brosur yang sempat saya baca tadi saat menunggu pengurusan enrollment verification di Registrar Office.




[caption id="attachment_38" align="aligncenter" width="225"]Brosur ini dikeluarkan oleh Human Rights Campaign Foundation dan Parents, Families and Friends of Lesbian and Gays Brosur ini dikeluarkan oleh Human Rights Campaign Foundation dan Parents, Families and Friends of Lesbian and Gays[/caption]

Lantas bagaimana sikap saya terhadap seseorang yang mengidap LGBT?


Bagi saya, seseorang yang menderita LGBT bisa terjadi karena 2 faktor:




  • Penyakit. Lha, emang ada? Di beberapa penelitian, LGBT bisa muncul karena adanya gen tertentu yang bermutasi atau hilang sehingga sifat-sifat yang seharusnya muncul justru tidak bisa terekspresikan. Sudah banyak penelitian tentang masalah ini. Silahkan dibrowse aja sendiri. Jika memang diputuskan bahwa orang tersebut mengidap "penyakit" LGBT, maka sikap kita yang terbaik adalah melakukan pengobatan agar sembuh dari "penyakit" tersebut. Tentu saja, penegakan diagnosis ini hanya bisa dilakukan oleh ahli yang berkompeten dan telah melalui serangkaian tes yang dibutuhkan.

  • Lifestyle. Nah, kalo penyebabnya yang satu ini, maka tidak ada jalan lain selain mengingatkan mereka agar segera berubah. Beberapa artikel yang pernah saya baca mengatakan bahwa salah satu faktor penyebab seseorang menjadi LGBT karena ketidakpuasan/kemarahan yang mereka rasakan terhadap lawan jenis mereka. Misalnya, seorang wanita yang terus-menerus disakiti oleh pria, sehingga pikirannya kemudian mengatakan semua laki-laki adalah sama. Makanya, wanita tersebut akhirnya mencari pelampiasan bukan kepada laki-laki lain, karena takut disakiti, tetapi kepada sesama jenisnya. Jika bertemu pengidap LGBT, maka kita harus banyak-banyak mengingatkan bahwa sikap mereka adalah salah besar. Kesimpulan yang mereka ambil terhadap lawan jenisnya tersebut terlalu prematur.


Mungkin ada yang akan mengatakan bahwa "Ngapain capek-capek pikirin mereka? Itu kan jalan hidup mereka...!".


Untuk statement di atas, saya hanya ingin mengatakan bahwa:




  1. Sebagai Muslim, saya berkewajiban untuk beramar ma'ruf nahi munkar. Karena LGBT sudah jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai keIslaman yang saya anut, maka hal ini menjadi kewajiban saya untuk meluruskan.

  2. Sebuah hadist Rasulullah SAW yang menyebutkan "Jika engkau melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tanganmu. Jika engkau tak sanggup, ubah dengan lisanmu. Jika masih tak sanggup, maka ubahlah dengan hatimu. Sungguh ini adalah selemah-lemah iman". Nah, sekali lagi, LGBT yang diakibatkan oleh faktor lifestyle di atas adalah sebuah kemungkaran karena menafikkan fitrah dirinya sebagai manusia.

  3. Musibah yang ditimpakan Allah SWT kepada pelaku kemungkaran bisa saja mengenai kita yang justru tidak melakukan kemungkaran itu. Mengapa begitu? Agar kita tahu bahwa diri kita juga turut bertanggung jawab terhadap lingkungan kita. Jangan egois.

  4. LGBT adalah "penyakit menular". Mungkin saat sekarang kita mengatakan bahwa itukan hak mereka. Tapi, jika tidak diantisipasi dengan baik, maka tidak ada jaminan justru kitalah yang mengalaminya. Mau?

  5. LGBT akan memusnahkan makhluk yang namanya manusia. Bagaimana coba kalo wanita vs wanita? Apakah akan menghasilkan anak? Atau "pedang" lawan "pedang"? Sama saja. Jadi, orang-orang LGBT pada dasarnya secara tidak langsung mengancam eksistensi manusia. Lantas apa bedanya dengan pembunuhan umat manusia yang dilakukan para diktator?


So, mari peduli dengan lingkungan kita.


Salam fitrah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19