Made in China

[caption id="attachment_44" align="aligncenter" width="300"]http://www.china.org.cn/business/2012-08/02/content_26099030.htm http://www.china.org.cn/business/2012-08/02/content_26099030.htm[/caption]

Tak pelak lagi jika kita mengatakan bahwa China adalah Negara pengekspor terbesar di dunia. Saya tidak mengetahui secara detail mengenai nilai ekspor negeri Tirai Bambu ini. Yang saya ketahui pasti adalah varian barang ekspornya yang sungguh sangat beragam. Mulai dari barang terkecil, misalnya tusuk gigi, sampai barang-barang yang berukuran besar, semuanya diproduksi di China dan kemudian diekspor ke berbagai Negara di seluruh dunia.


Hal ini tentu saja berkorelasi positif dengan kemajuan negeri ini. Dekade terakhir ini, China melejit menjadi Negara dengan perekonomian yang besar dan sekarang menyaingi Amerika Serikat. Jepang pun sekarang sudah kalah dengan Negara yang dipimpin Xi Jinping ini. Itu berarti bahwa China telah menjadi Negara ekonomi terbesar ke-2 di dunia.


Akan tetapi, besarnya varian barang yang diekspor China memberikan banyak efek “psikologis”tersendiri bagi mereka yang suka bertualang ke luar negeri terkait dengan jenis oleh-oleh yang akan dijadikan buah tangan sepulang nanti ke Indonesia. Maksudnya? Tentu saja, seseorang yang sudah pernah ke Amerika Serikat akan berpikir untuk membelikan orang-orang kesayangannya oleh-oleh yang orisinil dari AS. Orang yang pernah ke Inggris, tentu saja ingin memberi buah tangan Made in England. Yang pernah ke Mesir sudah pasti ingin gift asli Made in Egypt. Jika telah berkunjung ke Belanda, sudah barang tentu akan mencari souvenir Made in Holland, dan seterusnya.


Namun, di sinilah letak permasalahannya. Alih-alih mencari oleh-oleh yang bertuliskan Made in United States, saya justru seringkali dihadapkan dengan souvenir rasa Amerika, tapi Made in China. Praktis nilai “psikologis” buah tangan tersebut sedikit menurun, bukan? Pengen beli topi yang bertuliskan Ohio, eh…setelah diperiksa, ternyata Made in China juga. Sekali waktu ingin beli tempat minum, celingak-celinguk, dapatnya tulisan Made in China pula. Saya yakin, pengalaman ini tidak hanya dialami oleh saya pribadi.


Yang menjadi permasalahan sekarang adalah harga barang-barang Made in China ini jauh lebih murah dibandingkan barang yang benar-benar dibuat di United States. Pilih mana…beli yang Made in China dengan harga murah, tapi “nilai psikologisnya” kurang. Ataukah pilih Made in United States dengan harga tinggi, tapi prestise hadiah itu meningkat.


Agar tidak bingung-bingung, tentu saja kita bisa memunculkan option lain. Apa itu? Beli barang Made in China, tapi prestise oleh-olehnya tinggi. Gimana caranya? Gunting saja bagian yang menunjukkan barang itu dibuat di China. Hehe. Dengan begini, gift itu bisa lebih tinggi nilainya di mata pihak yang menerima oleh-oleh karena mereka “tidak menemukan” Made in China-nya.


Tentu saja hal ini bukan menjadi masalah besar bagi mereka yang tidak mempermasalahkan “buatan dari mana, yang penting dibeli dimana.” So, selamat berburu oleh-oleh.


Salam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cytokine Storms: Bukan Sembarang Badai

Kapan Obat COVID-19 akan Tersedia?

Rokok Vs COVID-19